Ngopi Bareng Ibu Kartini
alawysyihab
16.35
0
Ngopi
Bareng Ibu Kartini
By :
Akrom Adabi
Nostalgia Di Warung Kopi
Sudah lama saya tidak menyeduh kopi di kedai sebelah, jadi
serasa tidak menemukan waktu yang pas untuk menuangkan gagasan yang selama ini
hanya beranak di dalam batin. Menuangkannya lewat tulisan? Baiklah mumpung
masih panas yang namanya “Kartini” meskipun tak senikmat kopi hitam atau
seperti status Ibnu Zubair “ bagaimana jika sesekali jangan kopi hitam, kawan??
Tapi cappucino…”. Jadi, selamat menikmati. Saya pun akan sibuk menyeduhnya beberapa
jam ini.
Baru berselang beberapa hari lalu kita melewati hari kartini,
saya secara pribadi tidak tahu harus menanggapi bagaimana tentang hari itu,
tentang facebook.
pro kontra yang terus banyak didiskusikan, diperdebatkan, atau sekedar
diposting untuk peramai dinding
Di tulisan ini saya tidak ingin kembali memuji, atau malah
menghujat sana-sini. Hanya sedang belajar menjadi warga yang baik, menjadi mahasiswa
yang baik dan tentunya santri yang baik pula. Meminum kopi tanpa merayu mbak
penjaganya J
o0ps….bukan Mbak Kartini lho
Karena Menulis Namanya Dikenang
Bagi negara Indonesia, isu emansipasi biasanya akan kembali
mengemuka dan ramai diperbincangkan pada 21 April, hari itu diperingati secara
nasional dalam rangka mengenang perjuangan beliau demi mengangkat harkat dan
hak-hak wanita. Meski sebenarnya ada
juga beberapa wanita Indonesia yang ikut
berjuang dulu bahkan melawan penjajah secara langsung seperti Cut Nyak Dhien, Cut
Nyak Meutia, Dewi Sartika dan lain-lain. Bisa jadi anda selanjutnya. Perempuan-perempuan
ini sesungguhnya juga merupakan Kartini di bidangnya masing-masing yang namanya
hampir seperti bunga mawar yang sudah dipetik satu minggu lalu. Duh, malangnya,
biar pun begitu mereka tetaplah bunga.
Lagi-lagi, kisah kartini yang memenuhi lembar koran nasional
itu kembali memaksa saya untuk percaya pada ungkapan “ dengan menulis umur kita
akan semakin panjang”. Saya lebih percaya hal ini karena tulisan kartini yang
ditulis dalam surat-suratnya banyak didokumentasikan terutama oleh lawan “chatting”
yang menjadi gurunya itu, J.H. Abendanon yang kemudian banyak diedarkan, Habis
Gelap Terbitlah Terang.
Kartini adalah wanita sejarah, yang menurut saya akan menjadi
sia-sia jika semangat juangnya - maksud saya bukan memperjuangkan wanita saja,
tapi sikap juang dan semangatnya yang menggebu, patut untuk kita contoh- hanya
menjadi perayaan tahunan tanpa kita tidak benar-benar mampu menjadi pemuda dan
pejuang bangsa ini. Sebagai abdi yang rela berpuasa demi karena memberi,
sebagai abdi yang kenyang hanya dengan satu suapan, sebagai abdi yang rela
berjuang keras untuk bangsa ini.
Mau Aja Diemansipasi
Masih tentang wanita. Pada pemilu kita, ada yang “lucu”
(menurut saya) ketika setiap partai yang berlaga di pemilu DPR wajib
menyediakan 30% quota untuk perempuan, alasannya beragam. Tapi bukankah ini penghinaan untuk kaum
wanita. Mereka harus berada di parlemen bukan karena mereka benar-benar hebat
tetapi karena dikasihani sebab kewajiban mengisi quota 30%.
Undang-Undang Pemilu Nomor 8 tahun 2012, pasal 59 ayat (2) secara
halus menegaskan keterwakilan tersebut: ”Dalam hal daftar bakal calon tidak
memuat sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) keterwakilan perempuan, maka
KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/ Kota memberikan kesempatan kepada partai
politik untuk memperbaiki daftar bakal calon tersebut”.
Pertanyaannya adakah undang-undang dari dulu mewajibkan 100,
80, atau 50 % quota untuk laki-laki? Sehingga kewajiban quota 30% dengan alasan
biar lebih relevan justru sebuah penghinaan? Seolah wanita tidak mampu mencapai
quota tersebut.
Habis Terang Terbitlah Pagi
Tidak terasa subuh sudah hampir tiba, masih ada banyak hal
yang masih ingin saya bicarakan di sini, lagi pula kopi juga telah habis tak
enak rasanya jika harus membuat kopi lagi. Sampai jumpa di diskusi selanjutnya
gan….
Jangan lupa cuci tangan sebelum makan.
Sarang, Kota yang pas untuk menyeduh
kopi hitam, 24 April 2015
Tidak ada komentar