Peranan Besar Cendikiawan Muslim dan Perpustakaan
Ana Rodliyah
19.55
0
Peranan Besar
Cendikiawan Muslim dan Perpustakaan dari
Masa ke Masa
Oleh : Nur Muhammad Nafi’
Mungkin salah satu cara agar kita
bisa lebih semangat dalam hal mengoleksi kitab-kitab agama maupun buku-buku
ilmu pengetahuan lainnuya lalu membacanya kemudian kita menuangkannya dalam
bentuk tulisan sehingga bisa tampaklah kemanfaatannnya bagi orang lain.
Untuk kita harus menengok jasa besar cendikiawan-cendikiawan Islam di masa
lalu dan juga peranan besar perpustakaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan
di zaman lampau yang di dalamnya tertuang pemikiran-pemikiran para cendikiawan
Islam .
Seorang sejarawan
terkemuka, Reynold A. Nicholson menceritakan bagaimana khalifah Al-Ma’mun
menaruh perhatian besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Ia mengutus para
ilmuan islam, menghadap kaisar Romania, untuk menyalin buku-buku pengetahuan ke
dalam bahasa Arab. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan ini tidak hanya terbatas
dikalngan istana saja, tetapi juga menyentuh kalangan hartawan untuk ikut
berperan serta. Tiga bersaudara dari keluarga Bani Musa yang merupakan
konglomerat ternama pada saat itu, mendatangkan penerjemah-penerjemah dari
negeri Ajam dengan diberikan honor yang cukup besar, yaitu 500 dinar seorangnya
dalam setiap bulan. Penerjemah-penerjemah tersebut oleh Al-Ma’mun ditempatkan
didalam sebuah gedung istana yang bernama “Baitul Hikmah”. Mereka ini
menghabiskan waktunya sehari-hari untuk membicarakan dan mendiskusikan berbagai
cabang ilmu pengetahuan dengan para sarjana-sarjana penegetahuan dari kalangan
islam. Dikemudian hari islam ikut menyumbangkan pengetahuan berharga tentang
ilmu ukur ruang (geometri), ilmu mesin, ilmu perbintangan dan ilmu music.
1. Zaman Abbasiyah
Pada masa khalifah-khalifah Abbasiyah (750-1258), perpustakaan tidak hanya
terdapat pada sekolah-sekolah, masjidpun juga menjadi gedung perpustakaan,
dipenuhi kitab-kitab yang diwakafkan oleh masyarakat muslim yang sangat peduli
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Al-Khotib Al-Baghdadi, seorang
sejarawan ternama, termasuk ulama yang ikut mensponsori gerakan perwakafan
kitab ini. Jauh-jauh hari sebelum wafatnya, ia mewasiatkan kepada keluarganya
agar semua kitab-kitabnya yang terdiri dari ribuan judul itu diwakafkan untuk
perpustakaan-perpustakaan masjid yang didirikan oleh para pembesar negeri dan
hartawan. Kitab-kitab yang tersimpan pada saat itu, berisi tentang filsafat,
astronomi, dan ilmu pengetahuan lainnya. Kitab-kitab itu digunakan sebagai
bahan penelitian oleh para ilmuan islam terkemuka. Dan pada pertengahan abad ke
X di Bashra, terdapat perpustakaan yang cukup professional, yang sanggup
memberikan honor kepada para penulis ilmiah, yang menggunakan bahan-bahan dari
perpustakaan tersebut.
2. Abad X di Andalus
Abad X adalah zaman keemasan islam di Andalusia. Pada
waktu itu yang berkuasa adalah khalifah Abdu al Rahman III, pengaganti Hakam
II. Hasan mengirimkan utusan ke negeri-negeri yang maju ilmu pengetahuannya
untuk mumburu dan membeli naskah-naskah pengetahuan sehingga didalam istananya
terkumpul sebanyak 400,000 naskah. Istananya penuh dengan pegawai-pegawai
perpustakaan, penterjemah dan tukang jilid buku. Sekolah-sekolah yang didirikan
sudah mencapai 27 buah. Dan banyak sekali mahasiswa dari kalangan eropa yang
tertarik ikut belajar disekolah-sekolah islam.
Namun saying sekali, zaman keemasan islam, dalam bidang pengetahuan ini pada akhirnya musnah ditelan kekejaman musuh-musuh islam. Pada tahun 1220 M, pasukan Mongol, dibawah pimpinan Hulaghu Khan menghancurkan Perpustakaan Chawarizm di Turkistan dan perpustakaan “Baitul Hikmah” pun juga menyusul di hancurkan pada tahun 1258 M, sedangkan perpustakaan-perpustakaan di Tripoli dan Syiria yang didirikan pemerintahan keluarga Bani Amr juga hancur akibat perang Salib.
Namun saying sekali, zaman keemasan islam, dalam bidang pengetahuan ini pada akhirnya musnah ditelan kekejaman musuh-musuh islam. Pada tahun 1220 M, pasukan Mongol, dibawah pimpinan Hulaghu Khan menghancurkan Perpustakaan Chawarizm di Turkistan dan perpustakaan “Baitul Hikmah” pun juga menyusul di hancurkan pada tahun 1258 M, sedangkan perpustakaan-perpustakaan di Tripoli dan Syiria yang didirikan pemerintahan keluarga Bani Amr juga hancur akibat perang Salib.
3. Zaman Abu Nashr di
Baghdad
Dar Al-Ilmi adalah nama sebuah perguruan tinggi yang
didirikan oleh wazir Abu Nashr di Baghdad pada tahun 338 H. di Dar Al-Ilmi ini,
tidak kurang dari 100,000 judul kitab tersimpan. Pada masa itu juga terdapat
perpustakaan yang sangat terkenal. Yaitu perpustakaan perguruan tinggi
Nidzamiyyah, di Al Muntashiriyyah.
4. Zaman Daulah Fathimiyah
Pada tahun 1005 M khalifah Al-Hakim, yang termasuk
dinasti Fathimiyyah itu mendirikan sebuah perpustakaan yang sangat indah dan
luas. Ruang perpustakaan ini bergabung dengan ruang istana. Perpustakaan ini
setiap bulannya mendapat subsidi pemerintah sebanyak 257 dinar. Koleksi
kitab-kitabnya tidak kurang dari 2.000.000 judul. Ini belum perpustakaan milik
raja yang berada diluar istana yang dibuka untuk umum.
Demikian kilas balik
peradaban islam dimasa lampau dimana pernah mengalami zaman keemasan, tidak
lain karena kecintaan islam yang sangat mendalam kepada ilmu pengetahuan. Umat
islam pada waktu itu, sangat gemar membaca, menulis dan mengoleksi kitab-kitab
berisikan ilmu pengetahuan. Selain itu juga sangat gemar mengadakan
penelitian-penelitian. Oleh karenanya kita masih dapat membaca dan meresapi
setiap tetesan ilmu yang ada pada lembaran-lembaran yang telah tercetak banyak.
Jasad mereka sudah tak ada tapi hasil karya dan koleksi kitab mereka masih bisa
dirasakan manfatnya hingga hari ini. inginkah seperti cendekiawan itu.
Banyaklah membaca dan tuangkanlah pemikiran anda melalui tulisan, apapun itu,
seperti pepatah “kita bisa karena terbiasa”.

Tidak ada komentar