Select Menu
Select Menu

Favourite

Artikel

Opini

Tokoh

Cerpen

Humor

Tips

Seni Budaya

Gallery

» » Berdasi Juga Bersarung???


Ana Rodliyah 01.20 0

Berdasi juga bersarung???
Oleh: Alfin Naela
Sarung... sarung merupakan ciri  khas yang selalu konsisten dipegang oleh seorang santri. Menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman. Di negeri itu sarung biasa disebut futah. Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar atau ma'awis.Masyarakat di negara Oman menyebut sarung dengan nama wizaar. Orang Arab Saudi mengenalnya dengan nama izaar.
Di Indonesia, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi. Tak heran jika  sebagian masyarakat Indonesia  sering mengenakan sarung untuk sholat di masjid. Laki-laki mengenakan atasan baju koko dan bawahan sarung untuk sholat, begitu pula wanita mengenakan atasan mukena dan bawahan sarung untuk sholat.
Seorang yang bersarung selalu diidentikkan sebagai seorang santri. Santri yang memegang konsep sami’na wa atho’na terhadapmasayikh. Seorang santri yang tidak terlepas dari aktifitas kesehariannya untuk mempelajari kitab islam klasik yang sekarang dikenal dengan sebutan kitab kuning. Dan telah menjadi segel umum, bahwa seorang santri hanya mampu mengaji dan ceramah. eh kata siapa??? buktinya masih ada minoritas dari santri yang masih gagap ketika diperintah untuk memberikan ceramah. Bukan berati penulis termasuk didalamnya yaa...wekaweka..
Dasi... kata dasi tidak terlepas dengan kata kantor. Mayoritas masyarakat menganggap bahwa,seorang yang berdasi pasti lulusan dari Universitas ternama.Ah masa harus?? Buktinya angka  pengangguran juga masih sangat tinggi dari kalangan passca sarjana dan Tidak sedikit pula orang yang sukses dari kalangan santri. Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa santri hanya bisa mengaji tanpa harus memikirkan urusan kantor yang begitu ruwet??
Jangan salah!! Mereka yang berdasi juga ada yang sebelumnya pernah  mengannyam masa sarungan.  Banyak sekali para pejabat yang duduk dikursi tinggi negara, mereka adalah lulusan pesantren yang tentunya dibarengi dengan pengalamannya sebagai mahasiswa. Mahasiswa dipercaya oleh negara karena kecerdasannya dalam menata masalah untuk diselesaikan, maka betapa istimewanya jika yang menjadi mahasiswa adalah santri yang memiliki kedalaman spiritual serta keluasan ilmu dan juga kematangan profesional. Untuk permasalahan ini, santri yang mahasiswa juga banyak dipercaya keilmuannya untuk disinergikan dengan ilmu umum lainnya serta pengaplikasiannya.
Berbicara masalah santri dan mahasiswa yang sebenarnya tidak saling bertolak belakang,  terdapat sebuah pondok yang mencoba menyeimbangkan kedudukan antara santri dan mahsiswa. KH. Abdul Ghofur, selaku pengasuh sekaligus rektor STAI AL-ANWAR menginginkan adanya keselarasan antara seorang santri dan mahasiswa. Yang mana santri  disini tidak hanya belajar ilmu agama saja, tetapi juga belajar ilmu-ilmu formal sebagaimana status yang disandangnya, yakni mahasiswa dan juga santri. Atau lebih nge-trennya disebut sebagai mahasantri. Mahasiswa disini masih sangat kental dalam mempertahankan jati dirinnya sebagai seorang santri. Dalam proses belajar mengajar di kampus, tidak sedikit dijumpai mereka yang menggunakan sarung. Bahkan dapat dikatakan keseluruhan mahasiswa STAI Al Anwar putra mengenakan Sarung dan peci. Subhanallah ...
Dari uraian panjang diatas dapat disimpulkan bahwa ketika latar belakang santri dan mahasiswa berlawanan, maka kita harus berpikir lagi bahwa keduanya bisa dikombinasikan untuk saling melengkapi, memperkokoh satu sama lain.  Keberadaan pesantren dituntut untuk memback-up sisi kelemahan kampus dan begitu juga sebaliknya. Dengan kombinasi tersebut diharapkan munculnya insan yang mampu berpikir cerdas, kritis dan memiliki prilaku yang baik seperti yang diharapkan oleh bangsa ini.



«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply