RECTO VERSO
Jospy Arloji
02.44
0
RECTO VERSO
Oleh : Siti
Rodliyah-LPM-GP 16*
Sorot mata itu seolah-olah bicara, meski kadang terlihat
redup. Bahkan ketika mata itu terpejam aku bisa merasakan apa yang ada di dalam
bayangan mata itu. Kala kau menatap bola mataku, binar matamu tampak cerah
meski kadang masih basah oleh embun air mata. Kala kau tak memandangku, tapi
aku tahu bola hitam matamu itu mencari keberadaanku. Kau gerakkan ke kanan,
namun jika tak kau temukan diriku, kau alihkan dan gerakkan ke kiri. Kala kau
sudah menemukan sosokku, senyum tersungging dari bibir kecilmu. Aku merasakan
apa yang kau rasakan kala itu, kau lega dan senang telah menemukan keberadaan
diri yang mungkin ada yang tak mengharapkan kehadiranku.
Aku tahu semua yang kau rasakan kala itu. Kala kau berada
di sisiku, berada di dekatku yang mungkin hanya berjarak lima sentimeter.
Tingkahmu serba salah dan perkataanmu semrawut seakan lidahmu kaku kala itu.
Padahal aku juga tahu kalau biasanya lidahmu begitu fasih untuk berkata-kata
dan tingkahmu natural. Jika kau tak
senang pada sesuatu, kau tampakkan tingkah yang orang lain mudah menebak apa
yang kau rasakan. Begitu pun kalau kau senang pada sesuatu, tingkahmu membuat
orang di sekelilingmu ikut senang meski tadinya biasa-biasa saja. Apalagi mimik
wajahmu itu, sangat mudah mengekspresikan perasaan dalam balik dadamu. Ah, kau
begitu mudah dipahami, apalagi denganku yang peka terhadap sikap orang lain.
Aku juga tahu tangan siapa yang menulis puisi indah itu.
Meski puisi itu tak secara langsung ditujukan pada diriku, tapi aku tahu kau
telah selipkan inisial namaku di dalam kalimat indah itu. Aku tahu, banyak
sekali inisial nama yang sama denganku, tapi entah mengapa aku yakin kalau itu
adalah nama inisial yang ditujukan pada diriku. Ah, kau saja yang terlalu
pintar menyamarkan semuanya. Kau begitu pandai dalam merangkai kata-kata yang
tak semua orang mengerti makna kata-katamu.
Aku memang seakan-akan tahu tentang semua yang kau
rasakan. Tapi, yang tak bisa kumengerti darimu adalah mengapa lidahmu tak mau
mengatakan semuanya. Mengungkapkan apa yang ada di balik dadamu kepadaku.
Mengapa kau seolah-olah tak terjadi apa-apa kepadaku. Padahal sudah jelas
matamu, tingkahmu bahkan sikapmu kepadaku berbeda. Apakah mungkin aku yang
terlalu gede rasa menaggapi tingkahmu. Atau apa? Ah, kau membuatku tidak
mengerti meski aku tahu dirimu. Tahu belum tentu mengerti, tahu belum tentu
memahami. Memahami juga belum tentu yang dipahami tahu, kalau tak ada
pengungkapan. Uh, membimbangkan. Aku ingin kau mengatakannya langsung di
hadapanku, akan aku pasang betul-betul telingaku untuk mendengarkan. Akan aku
pasang wajah serius untuk memperhatikan. Akan aku siapkan hati untuk menerima
apapun deretan kata yang kau ucapkan tentangku. Tapi sepertinya kau tak punya
keberanian untuk mengungkapkannya. Tapi sekali lagi aku tahu kalau kau adalah
orang yang berani mengatakan apapun. Dan entahlah, sampai sekarang aku masih
menantimu untuk mengungkapkannya. Meski kadang aku tak mengaharapkannya. Sekian
Tidak ada komentar