Select Menu
Select Menu

Favourite

Artikel

Opini

Tokoh

Cerpen

Humor

Tips

Seni Budaya

Gallery

» » Islam Indonesia; Akulturasi Budaya Lokal dan Islam


alawysyihab 03.26 0



Islam Indonesia; Akulturasi Budaya Lokal dan Islam
Oleh: Alawy Assyihab*
Islam merupakan Agama yang lahir dan berkembang di dunia Timur khususnya Arab. Sehingga Sebagian masyarakat mengangap Islam identik dengan dunia Timur, khususnya Arab. Islam adalah Arab, dan Arab adalah Islam. Bahkan, seringkali mencampur adukkan dan tidak membedakan antara mana ajaran Islam dan mana budaya Arab. Dianggapnya semua budaya Arab adalah ajaran Islam, dan ajaran Islam adalah semua yang berasal dari Arab. Hal ini mengakibatkan Islam dianggapnya hanya milik Arab. Sehingga terkadang ada sebagian ormas yang beranggapan bahwa orang Islam harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alaihy Wa Sallam. Mengikutinya bukan hanya dalam syari’atnya saja, melainkan mulai dari cara berbicara yang ke-arab-arab-an, berjenggot dan berjambang lebat, berpakaian jubah, abaya hitam-hitam, bercadar, atau seperti pakaian orang Afghanistan, hingga cara makan dan apa yang dimakan oleh orang Arab pun dijadikan model keislaman.
Kemuidian Muslim yang ber-blangkon (peci khas Jawa, Cirebon), bersarung, senang berziyarah kubur, memperingati tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari atau setahun (haul) dari kematian leluhurnya, dianggap tidak lebih-saleh dan tidak lebih-Islam ketimbang mereka yang serba-Arab itu. Karena semua itu dianggap bukan Islam, tapi tahayyul, bid'ah,dan khurafat. Keislaman kelompok ini disebut Islam sinkretis, yakni Islam campuran antara "Islam-murni" dengan budaya lokal setempat. Islam-murni (puritan) bagi mereka adalah Islam sebagaimana dijalankan Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alaihy Wa Sallam selama hidupnya di Arab pada abad ketujuh Masehi di padang pasir, yang belum mengenal teknologi secanggih hari ini.
Jika pada dasarnya Islam diindentikan dengan cara hidup atau lebih jelasnya cara berpakaian ala Rasullulah Ṣalla Allah ‘Alaihy Wa Sallam dengan memakai Jubah, bersurban, dan berjengot. Bagaimana dengan cara bepakaianya Abu Jahal dan orang-orang kafir pada masa Rasulullah tersebut. bukankan mereka juga memakai Jubah, Surban, dan berjengot tebal. Apakan orang-orang tersebut termasuk orang Islam dan ketika mati akan masuk surga. Pastinya tidak, melaikan cara berpakaian tersebut merupakan tradisi masyarakat Arab dan semua masyarakat Arab pada saat ini maupun saat itu berpakaian sedemikian rupa, Meskipun dia muslim atau kafir.
Seperti Apakah Islam Indonesia?
Islam masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke 12. Sebelum Islam masuk ke Indonesia, di Nusantara sudah ada beberapa agama antara lain Hindu, Budha dan agama asli Nusantara yang menurut Agus Suyoto dalam buku Atlas Wali Sanga adalah Kapitaya bukan animisme dinamisme.
Dalam beberapa catatan sejarah, Islam masuk ke Indonesia melalui beberapa kalangan seperti : Para Pedagang Gujarat, Para pedagang Arab yang merantau berdagang ke China lalu meneruskan perdagangannya ke Nusantara, ada juga yang menyebut para pedagang China Muslim yang membawa Agama ini ke Nusantara. Ada juga pendapat pedagang-pedagang Persia dan Pedagang Indialah yang paling banyak membawa masuk peradapan Islam ke Indonesia pada abad ke 12-13 Masehi.
Dalam hal tersebut yang bisa kita garis-bawahi adalah Islam Tidak Langsung masuk ke Indonesia.  melainkan Ajaran Islam telah difilter oleh para pedagang Islam, dimulai dari India, China dan Persia barulah masuk ke Indonesia. Hal inilah yang membuat perbedaan sangat kental antara Islam Asil Arab dengan Islam Indonesia (Islam yang Meng-Indonesia). Hasil filter di India dan China menyebabkan para penganut Islam (para pedagang Muslim) menjadi sangat paham perbedaan antara Islam dan Non Islam. Rasa toleransi beragama dari pedagang Muslim sudah cukup kuat sehingga cara menyebarkan agama Islam menjadi lebih halus dan menjadi mudah diterima diseluruh Nusantara, mulai dari Aceh hingga Papua.
Dikutip dari NU Online Rois Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH A'wani Sya'roni menyatakan, perkembangan Islam di Indonesia berbeda dengan di Arab Saudi. Cara penyebaran atau dakwah di Indonesia disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat, sebab masing-masing daerah memerlukan cara yang berbeda. Ia mencontohkan, orang Jawa itu lunak, mereka akan mengikuti apa yang dilaksanakan oleh nenek moyang mereka sehingga diperlukan pendekatan yang baik. Pedekatan  tersebut berupa tidak memusuhi atau memberangus budaya yang ada. Justru budaya setempat diakomodir dan dilestarikan selama tidak bertentangan dengan aturan atau syariat Islam.
Seperti halnya metode dakwah yang diterapkan oleh wali sanga. Misalnya saja Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan kesenian wayang, gamelan, tembang, dan segala hal yang berbau kebudayaan dalam berdakwah. Langkah ini didasari atas pandangan, bahwa dakwah tidak akan menghasilkan apapun, bahkan dapat menghancurkan citra agama itu sendiri jika dilakukan dengan kekerasan. Dia juga berpendapat, masyarakat tidak akan mau memeluk Islam jika pendiriannya dan keyakinan atas kepercayaan sebelumnya secara frontal diserang.
 kemudian melalui media wayang, gamelan, tembang, dan segala hal yang berbau kebudayaan tersebut. beliau kemudian menyisipkan ajaran-ajaran Islam. Dengan sabar, beliau menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Sebab, Sunan Kalijaga yakin, suatu saat Islam akan dipeluk masyarakat jika mereka sudah paham. Kemudian, Sunan Kalijaga juga yakin kebiasaan buruk dalam masyarakat akan hilang jika Islam sudah dipahami.
Jadi, banyak sekali tradisi – trasdisi masyarakat khususnya Jawa yang berakuturasi dengan ajaran Agama Islam. Akuturasi ini sendiri merupakan bentuk dari dakwah yang dilakukan oleh para penyebar Islam di Nusantara. Sebab, secara frontal tidak mungkin menghapuskan sebuah tradisi yang sudah mendarah daging di masyarakat, dan digantikan suatu tradisi baru yang mana itu tidak sesuai dengan sosial masyarakat setempat. penulis  sangat yakin bahwa kalau Islam yang asli dari Arab dibawa masuk ke Nusantara pada abad ke 12 dan 13  tanpa adanya pengakulturasian dengan budaya Indonesia. maka Islam tidak akan ada di Indonesia dan menjadi mayoritas agama di Indonesia. Bagaimana mungkin ajaran-ajaran yang lama harus dihapus dan digantikan dengan ajaran yang baru.
Wajah Islam Indonesia-Arab
       Wajah Islam Indonesia dan Islam Arab sangat berbeda. Akan tetapi, perbedaan itu bukanlah suatu hal yang bisa menjadikan suatu kelompok disebut Islam sinkretis dan Islam Murni (Puritan). Melainkan semua itu hanyalah bentuk budaya yang berakulturasi dengan agama Islam. Andaisaja dahulu agama Islam diturunkan oleh Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā di Indonesia bukan di Arab, pasti semua bentuk kebudayaan Islam sama halnya dengan bentuk kebudayaan di Indonesia.
 Akulturasi budaya tersebut merupakan bentuk dari pelastarian budaya lokal. Hal tersebut dibernakan asalakan tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Sebagai kelompok yang memiliki tradisi lokal seharusnya kita mencoba untuk melestarikannya, bukan malah mengadopsi tradisi lain yang terkadang bertentangan dengan karakter bangsa kita.
Kita semua harus bersyukur bahwa selama ratusan tahun yang ada di Indonesia adalah Islam ala Indonesia dan Orang Indonesia telah memeluk Islam dan mengkombinasikannya dengan peradaban asli Nusantara. Islam Jawa adalah Islam yang mampu bersinergi dengan adat Jawa, Islam Sumatra adalah Islam dengan warna Sumatra yang kental, begitu juga dengan Islam Kalimantan, Islam Sulawesi, Islam Lombok dan lainya. Kesemuanya itu dapat disebut dengan Islam Indonesia. Islam yang tidak pernah mencari permusuhan dengan sesamanya, Islam yang sangat bertoleransi. Lihatlah Muhammadiyah dan NU. Ratusan tahun bersama tapi tidak pernah terjadi pertentangan yang keras. Sungguh berbeda dengan sekarang ini dimana Islam-Islam Arab mulai berulah di negeri tercinta ini dengan mengalakan gerakan kembali kepada al-Qur`an dan sunah.

*Mahasiswa STAI Al Anwar

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply