Berantas Malas"!!!!
Jospy Arloji
02.23
1
BERANTAS MALAS!!!
Oleh : Dadan Kumbara-LPM-GP 16*
Malas
merupakan penyakit psikis yang mengakibatkan seseorang menjadi enggan, bahkan
tidak mau beraktivitas sama sekali. Jika malas sudah menjangkit pada diri
seseorang, maka jangan harap kita memperoleh sesuatu dari orang tersebut.
Jangankan kita yang berada diluar pribadinya, ia sendiripun tidak akan
mendapatkan sesuatu apapaun. Keadaan ini menjadikannya stagnan, berhenti,
kosong, dan tidak memiliki eksistensi diri sendiri. Runyam, bukan?
Keadaan
malas seperti itu memang tidak dapat di toleransi. Jika malas diberi angin,
maka sifat itu kian ganas menggerogoti aktivitas. Kalau sudah begitu, maka
produktifitaspun semakin berkurang. Jika produktivitas berkurang, dampaknya
prestasi yang akan menurun. Semua itu akhirnya bermuara pada peran pemalas
dalam kehidupannya yang makin mengecil, bahkan nihil. Dengan kata lain, pemalas
tidak pernah dianggap keberadaanya di tengah-tengah masyarakat walaupun
sebenarnya ia hidup didalamnya (wujuduhu ka ‘adamihi). Siapa yang
sanggup hidup tak bemanfaat seperti itu?
CUTI
Situasi
malas yang sudah tidak mungkin lagi ditoleransi memang perlu diatasi. Jika
tidak diselesaikan, maka berdampak lebih besar. Salah satu cara mengatasinya
adalah dengan memanfaatkan hak cuti.
Dengan hak ini, seorang pekerja akan memperoleh libur kerja, tetapi tetap
mendapat gaji oleh perusahaan tempat ia bekerja. Biasanya, jumlah maksimal cuti
dalam setahun adalah 12 hari kerja.
Dalam
masa cuti itu, pekerja dapat mengistirahatkan jasmani maupun rohaninya. Dia
tidak lagi dituntut bekerja keras sebagaimana hari-hari biasanya. Dia bebas
menggunakan waktu cuti itu untuk menghibur. Ia tidk boleh memikirkan kerja.
Perusahaanpun tidak boleh mengganggu masa cuti itu. Singkatnya, cuti merupakan
saat yang tepat bagi karyawan untuk menenangkan diri.
Dengan
cara tersebut, seseorang benar-benar bisa mengendurkan urat syarafnya yang
tegang akibat himpitan dan tekanan kerja. Dia bisa benar-benar menjadi dirinya
sendiri. Memenuhi semua keinginan dirinya, tanpa ada paksaan dan tekanan. Ia
benar-benar harus rileks pada masa cuti itu. Jika kegiatan cuti itu dijalankan
dengan baik, mka keadaan setelahnya membuat keadaan seseorang menjadi pekerja ynag benar-benar fresh atau
segar bugar lahir maupun batin. Jika keadaanya kembali normal seperti itu, maka
tugas yang akan datang bisa dijalankannya dengan baik dan sukses. Inilah salah
satu keadaan yang menguntungkan kedua belah pihak, baik perussahaan maupun
pekerja.
Jadi
tidak benar jika cuti itu disebut-sebut sebagai penyebab malasnya pekerja.
Justru cuti merupakan alat yang ampuh untuk mengobati malas, khususnya yang
sudah diluar ambang toleransi. Bukankah setelah cuti seseorang akan menjadi
sehat keadaanya dan bisa memaksimalkan dirinya untuk bekerja sebagaimana
tuntutan dunia kerja.
Untuk
mereka yang belum terlibat dunia kerja, maka cuti bisa diganti dengan izin.
Semisal, sorang santri izin pulang kerumah dalam beberapa hari untuk mlepaskan
kepenatan selama belajar didalam pesantren. Seorang pelajar sesekali bisa izin
beberapa hari untuk menikmati masa cuti sang ayah ataupun ibunya. Hal seperti
itu sebenarnya sangat bermanfaat untuk mengadapi kesibukan pelajar pada waktu
berikutnya. Maka, izin tidak masuk sekolah ketika kepenatan pikiran sudah
benar-benar suntuk merupakan kebutuhan mutlak bagi pelajar maupun santri.
BIOMETRI
Selain
cuti, ada satu hal penting lainnya untuk dipahami yang berkaitan dengan malas,
yaitu Biometri. Biometri merupakan ukuran siklus hidup manusia dalam periode
tertentu. Dalam setiap periode pasti ada saatnya seorang begitu giat luar
biasa. Inilah yang dinamakan biiometri naik. Artinya, prestasi stau
produktivitas seseorang terus memuncak. Keadaan memuncak ini biasanya dirasakan
dua atau tiga minggu setelah libur atau libur sekolah. Maka, bisa dipahami jika
pada awal sekolah, tidak bijaksana bila menekan siswa untuk langsung tancap
gas, memeras otak, dan sebagainya. Tunggu 1 hingga 2 minggu. Setelah itu, siswa
pasti sudah cukup panas untuk diberi tugas yang cukup berat.
Disamping
biometri naik, ada pula kebalikannya. Pada saat ini, seseorang terkena malas
yang mengganasdan terus menggilas dirinya hingga di luar ambang batas. Meski
yang mengalami sendiri ada keinginan untuk bangkit, tapi sulitnya bukan main.
Akhirnya, dia hanya bisa mengerjakan sesuatu dibawah standar. Ini biasanya
terjadi setelah beberapa bulan awal bekerja atau masuk sekolah.
Dari
bimetri ini, kita dituntut mengenal biometri masing-masing. Kapan naik dan
kapan pula turun. Ketika naik, itulah saatnya kita singsingkan lengan baju untu
bekerja keras demi meraih perstasi yang gemilang. Sebaliknya, pada saat
biometri turun, maka itulah saatnya kita mengambil hak cuti.
SOLUSI MALAS
Karena
malas itu merupakan gejala psikis, maka solusinya harus dimulai dari aspek
kejiwaan itu. Artinya, penyakit malas harus dilawan oleh hati, jiwa, keinginan,
dan kekuatan pikiran dalam diri seseorang.
Kalau rasa malas sudah mulai menjangkit, maka segera berantas dengan
sikap mental yang mencerminkan giat, rajin, aktif, dan sejenisnya yang
merupakan kebalikan sifat malas.
Contoh
konkritnya, bila kia malas membaca buku pelajaran, maka lawanlah dengan rasa
ingin tau yang kuat terhadap isi buku tersebut. Rasa ingin tahu yang besar
membangkitkan diri untuk membaca dengan lahap halaman demi halaman dari buku
pelajaran itu. Atau kita takut-takuti diri sendiri bahwa jikalau tidak membaca
buku, maka kita tidak akan paham, dan tentu saja tidak akan bisa mengerjakan
soal ulangan nantinya. Jika ini yang terjadi, berarti pula kita mendapat nilai
dibawah stantar dan itu berarti tidak lulus, dan harus mengulang lagi! Nah,
kita pasti takut bukan?
Nah,
buat apa kita malas? Malas hanya membawa kita pada rendah kualitas. Rendah
kualitas identik dengan tidak mampu menghasilkan dan meningkatkan
produktivitas. Kalau kita malas, rendah kualitas, dan berakibat minim
berproduktivitas, maka APA KATA DUNIA?!
acikiwir
BalasHapus