Muharrom, Bulan Kemuliaan & Kebahagian
alawysyihab
17.21
0
Muharrom, Bulan Kemuliaan & Kebahagian
Oleh : M. Fitry
Oleh : M. Fitry
|
|
Dalam
kalender Islam, pergantian bulan Dzul-hijjah menuju Muharrom menjadi momen yang
begitu spesial bagi umat Islam di penjuru dunia. Kalau mereka yang melaksanakan
ibadah haji, bulan Dzul-hijjah dimaknai sebagai bulan dimana mereka menjadi
seorang muslim sejati, karena telah memenuhi semua lima rukun Islam. Bagi
mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, bulan Dzulhijjah dimaknai sebagai
bulan lambang kejayaan Islam, karena dalam bulan tersebut seluruh umat Islam
dari berbagai status, secara bersama-sama menyembelih hewan qurban dan
menikmati dagingnya setelah prosesi hari raya ‘Idul Adha yang dirayakan pada
tanggal 10 Dzul-hijjah.
Tidak
cukup sampai disini, kebahagian mereka kian bertambah seiring datangnya bulan
Muharrom yang sekaligus menjadi simbol tahun baru Hijriyyah. Pada bulan ini
umat Islam kian bahagia bukan karena terjadi pergantian tahun semata, tetapi
lebih pada hal istimewa yang terkandung di dalam bulan tersebut. pasalnya
bulan Muharrom adalah bulan yang paling
utama untuk berpuasa setelah bulan ramadlan. Ia merupakan bulan Allah SWT dan
paling bulan paling utama dari bulan-bulan lain yang dimuliakan, seperti
Dzul-qo’dah, Dzul-hijjah, dan Rojab.
Dalam menyambut bulan Muharrom ini, umat Islam sangat dianjurkan
melakukan ibadah-ibadah sunnah yang mempunyai pahala besar, seperti membaca doa
akhir tahun pada hari terakhir bulan Dzul-hijjah dan doa awal tahun pada hari
pertama bulan Muharrom. Agar kejadian baik yang terjadi pada setahun terakhir
bisa terulang lagi dan menjadi lebih baik pada tahun berikutnya, begitu juga
sebaliknya. Selain itu, disunnahkan juga membaca doa-doa selama 10 hari pertama
dan berpuasa pada tanggal 9 yang disebut
dengan puasa Tasua’, dan tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyura’.
Keutamaan puasa Tasua’ sangat besar, karena dalam suatu
riwayat hadits dijelaskan bahwa Rasulullah SAW akan terus berpuasa Tasua’ pada
tahun berikutnya jika beliau masih hidup, namun yang terjadi, beliau wafat
terlebih dahulu. Sementara
keutamaan puasa Asyura’ adalah dapat mengahapus dosa-dosa setahun yang lalu.
Jika kita rutin melakukannya setiap tahun, maka kita akan mendapatkan
keuntungan yang besar karena dalam setahun dosa-dosa kita dihapus dan mendapat
ampunan. Di samping itu, tanggal 10 Muharrom menyimpan banyak peristiwa penting
dan luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi Allah SWT. Pada tanggal tersebut
Allah menerima taubatnya nabi Adam AS sehingga ia menjadi bersih tidak berdosa,
memasukkan nabi Idris ke surga, mengeluarkan nabi Nuh dari perahunya (setelah habisnya
banjir besar), menyelematkan nabi Ibrohim dari kobaran api sehingga ia tidak
terbakar, menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa, membebaskan nabi Yusuf dari
penjara, mengembalikan penglihatan nabi Ya’qub, menghilangkan cobaan nabi
Ayyub, mengeluarkan nabi Yunus dari perut hut (ikan paus), mengampuni nabi Daud
dari dosanya, menganugerahkan kerajaan besar kepada nabi Sulaiman, dan pada
tanggal itu pula Allah memberikan ampunan kepada nabi Muhammad SAW dari
dosa-dosa beliau yang telah berlalu dan yang akan datang, serta masih banyak
lagi kejadian lain yang menunjukkan akan keistimewaan tangaal 10 Muharrom ini.
Namun
sayang, melihat berbagai fakta realita yang terekam beberapa tahun belakangan
ini, wajah kesenangan dan kebahagiaan menyambut bulan Muharrom mulai kusam dan
memudar. Mereka lebih tertarik untuk menyambut datangnya awal tahun baru Masehi
yang notebanenya bukan kalender umat Islam. Mereka cenderung meniru orang-orang
non muslim dalam hal gaya, budaya, dan lainnya, sehingga setiap pergantian tahun
baru Masehi mereka pergi ke alun-alun kota dan memegang terompet yang ditiup
pada jam dua belas malam. Masih banyak lagi warna-warni model kejadian semacam
di atas. Padahal disadari atau tidak, tindakan seperti itu, di samping
membuang-buang harta benda, juga dapat melemahkan Islam dari dalam secara
perlahan-lahan. Sehingga kebiasaan baik para pendahulu kita dan para ulama’
salaf dalam memelihara dan melestarikan ajaran islam yang mulia akan mengalami
penurunan sedikit demi sedikit. Oleh karena itu sebelum semua terlambat dan
masih adanya waktu dan kesempatan, mari kita sebagai umat Islam bersama-sama
terus memelihara dan melestarikan ajaran islam yang murni, yang berlandaskan
ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan seperti itu ajaran Islam akan terus terjaga
hingga masanya nanti dan semoga Allah selalu merahmati kita untuk terus berada pada jalan yang diridlai-Nya, amin.
Tidak ada komentar