Siapakah di Balik dinding Radikalisme??
Ana Rodliyah
02.12
0
Dibalik Dinding Radikalisme
Oleh : Siti Rodliyah
Radikalisme memiliki ketertarikan sendiri
untuk dibahas, apalagi berita-berita sekarang yang marak dengan teriakan aksi
para teroris, baik itu di luar negeri ataupun di Indonesia sendiri. Banyak
motif para pelaku melakukan beberapa aksi radikal di publik, dan yang lebih
parah lagi seringkali aksi mereka dengan mengatasnamakan agama. Dampak
radikalisme sangatlah fatal, aksi radikal seringkali memicu permusuhan, kalau
sudah terjangkit permusuhan, sangat dekat sekali dengan peperangan. Kalau
perang sudah pecah banyak kerusuhan yang diakibatkan olehnya, kematian banyak
warga, penderitaan dan kesengsaraan hidup.
Radikal saat ini diidentikkan dengan aksi para
teroris yang fundamentalisme. Perlu kita ketahui bahwa terdapat satu kronologi
mulanya radikalisme itu berkembang. Berdasarkan wawancara dengan dosen saya
yaitu bapak Tsalis Muttaqin, Lc, MS.I. serta beberapa sumber artikel yang saya
baca, perjalanan adanya radikalisme memang patut untuk dibahas. Di sini saya
mencoba menuliskan tentang satu peristiwa dibalik dinding radikalisme secara
singkat. Hal itu diawali dengan terjadinya pemberontakan yang dilakukan negara
Afghanistan terhadap Uni Soviet ( sekarang Rusia). Sebelum itu, kita perlu tahu
dulu bahwa dunia terbelah menjadi dua yaitu blog Barat dan Timur. Blog Barat disebut sistem pertahanan Atlantik
Utara, anggotanya ada Perancis, Inggris, Amerika, dll. Sementara blog Timur ada
Uni Soviet dan dibawah uni Soviet. sekitar tahun 1970-1980-an terjadi perang
dingin antara blog barat dan timur. Keadaan waktu itu negara yang diserang blog
barat akan dibela oleh blog timur, dan sebaliknya negara yang diserang blog
timur akan dibela oleh blog barat. Pada akhir tahun 1979, Soviet menyerang
Afghanistan dengan sebab dan tujuan tertentu ( bisa dicari sejarahnya). hal ini
diketahui ternyata Amerika memihak Afghanistan. Amerika membantu Afghanistan
dengan melatih dan mendidik militan Afghanistan untuk pertempuran mengahadapi Soviet.
Oleh sebab itu, di Afghanistan sudah diimpor pikiran-pikiran radikal, radikal
di sini identik dengan gaya-gaya wahabi di Arab Saudi. Radikalisme di
Afghanistan sangat dimanfaatkan betul oleh Amerika. Melalui proses yang panjang
dan rumit, sekitar akhir tahun 1980-an akhirnya Soviet harus mengangkat kaki
dari Afghanistan karena kekalahannya. Peristiwa tersebut mengisahkan
radikalisme di Afghanistan sendiri, dan hal itu tidak lepas dari campur tangan
Amerika.
Setelah peristiwa tersebut, kelompok-kelompok
wahabi di Afghanistan sangat kuat. Sehingga lahirlah pemerintahan di
Afghanistan, yang pada waktu itu pemilu dimenangkan oleh kelompok Taliban.
Taliban merupakan kelompok mirip-mirip wahabi yang ada di Afghanistan. Dengan
kemenangannya Taliban, ternyata tidak diinginkan oleh Amerika. Dikatakan bahwa
Taliban justru menjadi musuh yang sangat mahal bagi Amerika, karena kekuatan
Taliban tidak bisa diremehkan. Pengaruhnya kuat sekali di Afghanistan.
Radikalisme yang terlanjur berkembang di
Afghanistan banyak mempengaruhi orang-orang yang berada di sana, tak terkecuali
para militan Afghanistan yang bukan asli warga sana. Ada relawan dari negara
lain yang mengikuti pelatihan militan di Afghanistan untuk ikut perang dengan
Uni Soviet. Oleh sebab itu, banyak dari mereka yang membawa radikalisme ketika
kembali ke negara masing-masing. Hal ini terbukti ketika terjadi aksi
penembakan turis di Mesir pada tahun 1995-an, pada waktu itu ada sekitar 60
turis diberondong dengan senjata otomatis, dan tewas semua. Namun penembak itu
dibalas tembak oleh pihak keamanan tentara Mesir. Setelah diselidiki, pelaku
aksi tersebut adalah veteran dari Afghanistan, yang dulunya pernah menjadi
gerilyawan di Afghanistan. Tidak hanya peristiwa tersebut, pada tahun 2001,
lebih tepatnya 11 September, terjadi peristiwa pesawat teroris menghancurkan
World Trade Center (WTC) dan Pentagon, lambang-lambang keperkasaan ekonomi dan
militer Amerika Serikat. Peristiwa yang menghilangkan nyawa lebih dari lima
ribu orang dan tercatat dalam sejarah yang mengubah dunia. Menurut narasumber,
yang tertuduh sebagai dalang dari peristiwa tersebut adalah Al-Qaeda. “saya
mengatakan tertuduh karena entah ada bukti atau tidak itu urusan Amerika”,
jelas narasumber. Menurut sumber lain
yang saya baca mengatakan bahwa memang Osama bin Laden, pimpinan Al-Qaeda yang
menjadi tersangka utama. Osama bin Laden terkenal dengan ideologinya yang
didasarkan pada ideologi sayyid Qutb, fundamentalis Mesir. Pada waktu itu
diduga Osama bin Laden bersembunyi di Afghanistan.
Selain dua peristiwa besar tersebut yang
ternyata dibalik itu semua masih ada kaitannya dengan peristiwa Afghanistan,
ada peristiwa teror yang tidak akan hilang di benak warga Indonesia, yaitu
peristiwa pengeboman pusat hiburan di Bali, pada 12 Oktober 2002 yang
menghilangkan sekitar 202 nyawa. Peristiwa tersebut sangat menggegerkan warga
dan turis yang ada di Bali, serta pemerintahan Indonesia sempat dikagetkan juga
atas aksi tersebut. Ada salah satu pengamat teroris yang mengatakan bahwa dalang
dari semua itu adalah kelompok JI ( Jamaah Islamiyah). Namun pada saat itu
banyak kalangan warga Indonesia yang masih bantah-bantahan tentang adanya JI di
Indonesia, setelah dilakukan penelitian dari beberapa kalangan kampus
(dosen-dosen), ternyata memang terbukti JI ada dan dalang JI adalah
veteran-veteran dari Afghanistan. Mereka sebelum menyebar ke Indonesia, seperti
Nurdin M.Top dan Prof. Azhari merupakan embrionya, bayinya berasal dari
orang-orang yang dulunya pernah dididik radikal di Afghanistan ketika perang
melawan Uni Soviet (Rusia). JI adalah sebuah gerakan militan muslim yang
merupakan pecahan dari Ikhwanul Muslimin, dikatakan juga JI merupakan transformasi dari
gerakan Darul Islam yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia
(NII). Menurut salah satu peneliti, David Wright –Neville dari Universitas
Monash, Australia, militansi JI terbentuk sebagian karena kontak antara
tokoh-tokoh JI dengan anggota Al-Qaeda yang berada di Afghanistan pada waktu
itu. Metode perjuangan JI banyak dipengaruhi oleh perang Afghanistan. Dalam hal
ini, salah satu teroris di Indonesia yang dijatuhi hukuman mati, Imam Samudera
mengaku mendapat banyak perubahan cara berpikir ketika di Afghanistan. Hal ini
menunjukkan bahwa di balik dinding radikalisme adalah peristiwa di Afghanistan.
“Karena itu, kalau betul teori ini, karena keterlibatan dan keberpihakan
Amerika pada Afghanistan ketika perang dengan Rusia, masuk akal jika Amerika
tahu betul tentang Al-Qaeda. Amerika ada sangkut pautnya dengan terorisme. Jadi
radikal asalnya ketika perang melawan Rusia, tapi ketika perang itu sudah
selesai, mereka sudah dididik radikal. Mereka berasumsi bahwa mereka harus
meneruskan aksi perangnya itu tapi dengan merubah gaya serangan yaitu
serangan-serangan yang berbentuk teror”, papar narasumber. Seperti itulah di
balik dinding radikalisme yang sekarang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok
tertentu, dan banyak aksi teror yang sangat meresahkan manusia.
Lain pembahasan, ketika wawancara saya sempat
menanyakan kepada narasumber tentang keterkaitan aksi radikal dengan
mengatasnamakan jihad. “Bagaimana teror bisa mengatasnamakan jihad, kalau yang
jadi korban juga orang Islam, apapun keadaannya. Justru pertanyaannya apakah
mereka sudah menjadi representasi Islam? Maka ketika menyebut bahwa itu jihad,
itu harus didefinisikan betul, apakah mereka termasuk jihad, bahkan bunuh diri
itu karena keterpaksaan atau karena memang jihad. Tentang radikalisme agama,
semua agama itu ada pengikutnya yang memang berbuat radikal. Jadi Irlandia
perang sama Inggris itu juga ada aksi orang-orang yang berbuat radikal. Semua
agama itu punya potensi untuk moderat, pada saat yang sama juga berpotensi
untuk radikal,” jelas narasumber.
Sumber Primer : hasil wawancara oleh Tsalis
Muttaqin, Lc, MS.I.( Dosen STAI Al-Anwar dan STAIN Surakarta)
Sumber Sekunder :
http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/hebatnya-taliban-bisa-bikin-as-bangkrut.htm#.VwsM6Zx97IU
https://yayasanlazuardibirru.wordpress.com/2013/12/18/jamaah-islamiyah/
http://massandry.blogspot.co.id/2013/09/bacaan-perang-sejarah-perang-uni-soviet.html
Karen Amstrong, Berperang Demi Tuhan
(Fundamentalisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi), terj. T. Hermaya, (
Jakarta: Mizan, 2013).

Tidak ada komentar