Menempatkan BEM Pada Tempat Yang Semestinya
Jospy Arloji
02.31
0
Menempatkan BEM
Pada Tempat Yang Semestinya
Oleh: Hasyim Asy’ari
MQ -LPM-GP 16*
Kepemimpinan merupakan hal yang
penting dalam kehidupan. Semua orang pasti akan menjadi pemimpin dalam
hidupnya, setidaknya menjadi pemimpin terhadap dirinya sendiri ataupun pemimpin
bagi keluarganya. Melalui kepemimpinan semua hal yang perlu dioganisir
akan berjalan dengan baik, karena melalui kepemimpian kerjasama akan tercipta.
Begitupun sebaliknya, tanpa melalui kepemimpina hal-hal yang rumit pengorganisasiannya
akan sulit untuk direalisasikan.
Meskipun demikian, sebuah kepemimpinan
perlu dilatih dan dikembangkan agar terbentuk sebuah kepemimpinan yang bermutu.
Tanpa pengembangan, kepemimpinan akan berjalan secara hambar, kepemimpinan
tidak mempunyai karakter, apalagi sebuah pencapaian, karena setting idealisme
serta pengaplikasiannya tidak ada. Dengan demikian menyiapkan kepemimpinan yang
baik dalam tahap kaderisasi menjadi hal yang urgen dan tak tertawar lagi.
Mengenai urgensi dari kepemimpinan
serta tahap menyiapkannya, kini telah banyak lembaga-lembaga atau
organisasi-organisasi yang memberikan platform sabagai wadah kaderisasi. Mereka
pada umumnya pasang body sebagai solusi terhadap problem kaderisasi dan kepelatihan
kepemimpinan. Begitu halnya dalam perguruan tinggi, kini semua perguruan tinggi
hampir bisa dipastikan mempunyai lembaga atau organisassi yang memberikan
program kaderisasi dan pelatihan kepemimpinan. Pada umumnya, oragnisasi-organisasi
tersebut disebut sebagai BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).
BEM Sebagai Pusat Kaderisasi
Dalam perguruan tinggi, BEM
mendapatkan mendapatkan posisi yang
strategis. Berbagai jaringan orang-orang penting yang dianggap bisa ber-partner dengan mereka satu
persatu digandeng, meskipun secara setting dasar, orang-orang penting tersebut jalur
koordinasinya melalui BEM. Hal- hal yang berkaitan dengan kemahasiswaan, BEM
tanpil dibarisan terdepan, BEM dijadikan layaknya bemper. Bahkan mayoritas
hal-hal yang bersangkutan mengenai civitas academica pun tak luput jari jamahan
koordinasinya, walaupun dalam prakteknya tetap ada pembatas terhadap gerak BEM
itu sendiri. Dengan demikian, tidak heran jika keberadaan BEM menjadi primadona
bagi kebanyakan para mahasisiwa. Karena menurut idealism mahasiswa, tidak keren
kalau belum bisa menjadi pejabat BEM. Bagaimana dengan anda?
Pada umunya, para mahasiswa
menjadikan BEM sebagai sarana mengasah diri serta pembelajaran dini dengan
ritme organisasi pemerintahan. Serta melalui BEM pula, mereka mulai mengasah
kemampuan dalam mengahadapi pola-pola perpolitikan dan pemerintahan. Mereka
mulai memahami bagaimana berkomunikasi yang smart sekaligus efektif dengan para
anggota legislatif yang notabenenya adalah pengawas sekaligus pintu persetujuan
bagi kebijakan mereka. Dengan memakai adagium yang sederhana “Mereka harus
benar-benar menguasai lobi jika kebijakan ingin berjalan lancar.”
Kemudian, setelah mereka belajar mengenai
dinamika perpolitikan, mereka pun diharuskan mulai belajar bagaimana menjadi
pemerintah yang baik. Pemerintahan yang baik bisa diwujudkan jika saja paradigm
mereka sanggup dirubah. Merubah paradigma yang sebelumnya, bahwa pemerintah
adalah raja manjadi pemerintah adalah pembantu rakyat serta pelayan rakyat.
Dengan begitu mereka akan mempunyai
sikap dan mental yang benar-benar amanah. Merubah pradigma menjadi hal paling mendasar
dalam syarat mewujudkan pemerintahan yang baik. Setelah paradigma dapat dirubah,
baru beranjak pada tahapan management serta efektifitas management seperti apa
dan bagaimna. Namun jika paradigm saja tidak bisa dirubah dan tidak mau
merubah, maka terwujudnya pemerintahan yang baik dan efektif akan mustahil diwujudkan.
BEM Sebagai Eksekutif
BEM sebagai eksekutif sangat erat
kaitannya dengan keberadaan mahasiswa. Sebagai rakyat, mahasiswa harus
mendukung pemerintahan dalam menjalankan roda organisasinya. Medukung dengan
berbagai bentuk apapun itu, baik dalam segi kritik, saran, ide dan sebagainya,
dan yang terpenting masih dalam term
“mendukung pemerintah agar lebih baik”. Baik dalam pemerintahan adalah terciptanya
pemerintahan yang efektif dan bermartabat yang biasa disebut good governance.
Efektif dalam menjalankan kebijakannya serta bermartabat yang tercermin melalui
sikap atau akhlaknya.
Dalam pelaksanaan kebijakan, kedekatan
antara pemerintah kepada rakyatnya merupakan suatu hal yang urgen. Degan adanya
kedekatan, pemerintah lebih mudah meng-cover rakyat serta mengajak rakyat turut
berpartisipasi mewujudkan pemerintahan yang baik dan efektif. Sedangkan rakyat
akan merasa ringan bahkan senang bisa membantu pemerintahaannya melalui ide dan
gagasan-gagasannya. Dengan demikian antara pemerintah dan rakyat memiliki
kesinambungan dan keharmonisan. Melalui transformasi yang demikian, pemerintahan
yang baik dan efektif akan mudah diwujudkan. Namun jika kedekatan saja
pemerintah tidak sanggup mewujudkannya, maka taruhannya adalah program
pemerintah yang diaplikasikan kepada rakyat akan seret. Bahkan yang paling
ditakuiti adalah deadlock-nya program pemerintah, karena tidak didukung
oleh rakyat dalam pelaksanaannya.
Memang bukan perkara mudah, mewujudkan
pemerintahan yang dekat kepada rakyat dan meiliki ikatan emosional. Dalam
prakteknya pun pasti banyak tantangan-tantangan, dan hal demikian tidak mudah
meakukannya sebagaimana mudahnya membalikkan telapak tangan. Namun seperti penjelasan
diatas, bahwa kedekatan pemerintah terhadap rakyat merupakan hal yang urgen.
Dalam melakukan pendekatan terhadap
rakyat pastinya memerlukan tahapan-tahapan yang panjang, dan berkelanjutan.
Begitupun BEM, yang dalam hal ini merupakan pemerintahan kampus dan civitasnya.
Bagaimana jadinya jika BEM yang tuntutannya dekat kepada rakyat malah terlihat menjauh. Jangan sampai, alih-alih
tidak mendekatkan diri kepada rakyat malah menciptakan gap kepada rakyat. Atau
bahkan yang paling parah, BEM dikebiri, BEM bukan menjadi layaknya pemerintah
yang mempunyai cakupan rakyat, malah menjadi sesosok organisasi amatiran.
BEM tidak melayani rakyat yakni
mahasiswa malah sibuk melayani dan memperbaiki diri sendiri. Ingat, BEM
diciptakan bukan sekedar organisasi namun BEM sebagai pemerintah.
Mungkin hal demikian banyak kita
jumpai dalam kampus-kampus yang belum mempunyai setting idelisme BEM. Meskipun
terkadang setting idealisem sudah ada, namun para SDM-nya saja yang tak sanggup
merealisasikannya. Jika memang demikian, berarti permasalahn besar telah
menghampiri. Sangat jelas, permasalahan besar tersebut adalah minimnya kaderisasi
serta tidak efektifnya kaderisasi yang telah dibuat. Atau mungkin yang paling
fatal, tidak adanya tahapan kaderisasi serta usahanya. Bagamaimana dengan BEM
anda?
Tidak ada komentar