Select Menu
Select Menu

Favourite

Artikel

Opini

Tokoh

Cerpen

Humor

Tips

Seni Budaya

Gallery



Sarang- Acara Talk Show Catatan Najwa memang sudah selesai, Akan tetapi  masih meninggalkan beberapa cerita unik.  Acara yang diselengarakan pada Sabtu (15/4) di Kampus STAI Al Anwar ini dihadiri oleh Najwa Shihab dan Dr. K.H. Abdul Ghofur Maimun. Dalam acara tersebut Najwa Shihab dan seluruh yang hadir dibuat terpukau oleh penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) STAI Al Anwar yang melantunkan lagu Indonesia Jaya.
Menurut Najwa Shihab atau yang akrab dipanggil Mbak Nana, suara penyanyi solo yaitu Slamet Firdaus mirip dengan salah satu penyanyi kondang Indonesia Afgan Shahreza. Ia mengatakan  sempat terkejut ketika mendengar Slamet melantukan lagu Indonesia Jaya. Dikiranya Afgan Hadir dalam acara tersebut, ternyata bukan Afgan tetapi Slamet.
“ Saya kira tadi yang nyanyi Afgan, eh ternyata Slamet. Tetapi suaranya mirip lho, 11 : 12 . Dan saya mengucapakan terima kasih kepada PSM yang telah menghibur kami semua dan telah membuat acara talk show ini semakan ramai.” Tutur Mbak Nana.
Menurut Alawy Selaku Manager PSM lagu ini dipilih, sebagai runungan kita bersama  bahwa hidup ini akan selalu penuh rintangan. Namun ketika kita menyadari dan menjalaninya dengan penuh harapan kepada Yang Maha esa serta bekerja sama untuk berjuang, maka segala impian kita akan menjadi nyata termasuk kejayaan Indonesia.
“ Pemilihan lagu ini tidak sepontanitas, melainkan melalui beberapa diskusi. Kami diskusikan dengan rekan-rekan semua tentang lagu apa yang cocok. Akhirnya terpilihlah lagu Indonesia Jaya. Sebab, kami ingin mengajak semua audien untuk merunung bahwa tanpa persatuan dan kesatuan tidak mungkin kita bisa mewujudkan negara Indonesia yang Jaya.” Ujar Alawy. (Syihab)


Muharrom, Bulan Kemuliaan & Kebahagian
Oleh : Ibnu Khoir
Dalam kalender Islam, pergantian bulan Dzul-hijjah menuju Muharrom menjadi momen yang begitu spesial bagi umat Islam di penjuru dunia. Kalau mereka yang melaksanakan ibadah haji, bulan Dzul-hijjah dimaknai sebagai bulan dimana mereka menjadi seorang muslim sejati, karena telah memenuhi semua lima rukun Islam. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, bulan Dzulhijjah dimaknai sebagai bulan lambang kejayaan Islam, karena dalam bulan tersebut seluruh umat Islam dari berbagai status, secara bersama-sama menyembelih hewan qurban dan menikmati dagingnya setelah prosesi hari raya ‘Idul Adha yang dirayakan pada tanggal 10 Dzul-hijjah.

Tidak cukup sampai disini, kebahagian mereka kian bertambah seiring datangnya bulan Muharrom yang sekaligus menjadi simbol tahun baru Hijriyyah. Pada bulan ini umat Islam kian bahagia bukan karena terjadi pergantian tahun semata, tetapi lebih pada hal istimewa yang terkandung di dalam bulan tersebut. pasalnya bulanMuharrom adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah bulan ramadlan. Ia merupakan bulan Allah SWT dan paling bulan paling utama dari bulan-bulan lain yang dimuliakan,seperti Dzul-qo’dah, Dzul-hijjah, dan Rojab. 

Dalam menyambut bulan Muharrom ini, umat Islam sangat dianjurkan melakukan ibadah-ibadah sunnah yang mempunyai pahala besar, seperti membaca doa akhir tahun pada hari terakhir bulan Dzul-hijjah dan doa awal tahun pada hari pertama bulan Muharrom. Agar kejadian baik yang terjadi pada setahun terakhir bisa terulang lagi dan menjadi lebih baik pada tahun berikutnya, begitu juga sebaliknya. Selain itu, disunnahkan juga membaca doa-doa selama 10 hari pertama dan berpuasa pada tanggal 9  yang disebut denganpuasaTasua’, dan tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyura’. 

Keutamaan puasa Tasua’ sangat besar, karena dalam suatu riwayat hadits dijelaskan bahwa Rasulullah SAW akan terus berpuasa Tasua’ pada tahun berikutnya jika beliau masih hidup, namun yang terjadi, beliau wafat terlebih dahulu. Sementara keutamaan puasa Asyura’ adalah dapat mengahapus dosa-dosa setahun yang lalu. Jika kita rutin melakukannya setiap tahun, maka kita akan mendapatkan keuntungan yang besar karena dalam setahun dosa-dosa kita dihapus dan mendapat ampunan. Di samping itu, tanggal 10 Muharrom menyimpan banyak peristiwa penting dan luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi Allah SWT. Pada tanggal tersebut Allah menerima taubatnya nabi Adam AS sehingga ia menjadi bersih tidak berdosa, memasukkan nabi Idris ke surga, mengeluarkan nabi Nuh dari perahunya (setelah habisnya banjir besar), menyelematkan nabi Ibrohim dari kobaran api sehingga ia tidak terbakar, menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa, membebaskan nabi Yusuf dari penjara, mengembalikan penglihatan nabi Ya’qub, menghilangkan cobaan nabi Ayyub, mengeluarkan nabi Yunus dari perut hut (ikan paus), mengampuni nabi Daud dari dosanya, menganugerahkan kerajaan besar kepada nabi Sulaiman, dan pada tanggal itu pula Allah memberikan ampunan kepada nabi Muhammad SAW dari dosa-dosa beliau yang telah berlalu dan yang akan datang, serta masih banyak lagi kejadian lain yang menunjukkan akan keistimewaan tangaal 10 Muharrom ini.

Jadi, setelah kita menetahuikeutamaan kedua bulan tersebut tentulah wajar jika umat Islam sangat senang dan bahagia dalam menyambutnya. Namun sayang, melihat berbagai fakta realita yang terekam beberapa tahun belakangan ini, wajah kesenangan dan kebahagiaan menyambut bulan Muharrom mulai kusam dan memudar. Mereka lebih tertarik untuk menyambut datangnya awal tahun baru Masehi yang notebanenya bukan kalender umat Islam. Mereka cenderung meniru orang-orang non muslim dalam hal gaya, budaya, dan lainnya, sehingga setiap pergantian tahun baru Masehi mereka pergi ke alun-alun kota dan memegang terompet yang ditiup pada jam dua belas malam. Masih banyak lagi warna-warni model kejadian semacam di atas. Padahal disadari atau tidak, tindakan seperti itu, di samping membuang-buang harta benda, juga dapat melemahkan Islam dari dalam secara perlahan-lahan. Sehingga kebiasaan baik para pendahulu kita dan para ulama’ salaf dalam memelihara dan melestarikan ajaran islam yang mulia akan mengalami penurunan sedikit demi sedikit. Oleh karena itu sebelum semua terlambat dan masih adanya waktu dan kesempatan, mari kita sebagai umat Islam bersama-sama terus memeliharadan melestarikan ajaran islam yang murni, yang berlandaskan ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan seperti itu ajaran Islam akan terus terjaga hingga masanya nanti dan semoga Allah selalu merahmati kita untuk terus berada pada jalan yang diridlai-Nya, amin.

Muharrom, Bulan Kemuliaan & Kebahagian



Give Thanks to Allah
oleh : Ali Ridlo

Merasa tersaingi oleh orang lain dalam perihal akhirat  mungkin bisa kita katakan wajar. Akan tetapi coba kita lihat orang disekeliling kita atau bahkan mungkin kita sendiri merasa tidak terima atas apa yang didapatkan oleh orang lain. Kita akan merasa Tuhan tidaklah adil. Hal ini memang sudah menjadi watak manusia, manusia yang tidak pernah puas atas apa yang telah ia dapatkan. Kalau kita simak pepatah yang mengatakan “ Rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput sendiri” , mungkin kebanyakan orang akan menggunakan pepatah tersebut dikhususkan bagi wanita yang dipandang oleh laki-laki yang sudah menikah, Padahal bukan hanya seperti itu. Pepatah itu  mencangkup segala hal yang berkaitan dengan dunia. Akan tetapi tentunya pepatah tersebut ditujukan bagi mereka yang tidak pernah mau bersukur. Mereka cenderung melihat sisi mereka yang lebih unggul, lebih mulia, mereka tidak mau melihat sisi mereka yang berada di bawah. 

Perasaan tidak menerima apa yang didapatkan oleh orang lain itulah yang membuat kita buta akan segala nikmat yang telah Tuhan berikan. Nikmat Tuhan bukan untuk kita pamerkan, sehingga kita dapat menjadikanya ajang perlombaan, akan tetapi nikmat Tuhan haruslah kita rasakan dan syukuri.

Hanya dengan bersyukurlah kita dapat terhindar dari sifat hasud / iri hati. Bersyukur bukan hanya sebagai solusi dari problematika ini, akan tetapi juga menjadi dasar pelatihan hati kita agar mampu berjiwa besar. Berjiwa besar bukan berarti  jiwa dengan ukuran yang besar, melainkan  mampu menerima segala apapun yang telah menjadi putusan Tuhan. Karena ketika kita telah mampu untuk berjiwa besar maka secara otomatis kita akan dapatkan perasaan yang nyaman guna menjalani kehidupan di dunia ini tanpa disertai lalai akan Sang Pencipta

Tidak perlu kita menuntut sesuatu yang lebih ketika memang kita hanya bisa dapatkan hal yang kecil, tidak usah kita meminta mobil selagi kita hanya mampu membeli sepeda motor. Karena ketika kita mampu mensyukurinya,  Tuhan pasti akan memberikan hal yang lebih. Tuhan berfirman dalam kitabnya yang mulia. لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan-Nya dengan selalu mensyukuri segala apa yang telah Tuhan berikan, karena apa yang ada pada kita adalah yang terbaik bagi kita.amiin.

Give Thanks to Allah

oleh : Iid Muhyiddin

Cerita tentang Nabi Ibrahim  dan Nabi Ismail yang sudah tak asing lagi kita dengar dan baca, seolah kembali terangkat di bulan Dzulhijjah, ketika musim qurban tiba. Begitu juga pembicaraan masyarakat dan media-media selalu berulang pada topik seputar Qurban seperti mengenai harga hewan qurban melonjak, keramaian pasar hewan meningkat pesat dan lainya. Media televisipun berlomba-lomba memberitakan publik figure yang beramai-ramai mempersiapkan qurban, mulai dari kalangan artis cilik, artis senior, penyanyi, kepala daerah hingga politisi-politisi. Hal tersebut menunjukkan nilai keagamaan di masyarakat tidak berkurang,  syiar keagamaan tidak meredup dan kesadaran untuk berbagi dengan orang yang kurang mampu terus terbangun. Namun terkadang pesan yang tersirat belum benar-benar sampai pada orang yang berqurban tersebut, kebanyakan masyakat hanya mengetahui hukum berqurban dari dongeng belaka, tanpa mengetahui hikamh yang sebenarnya dapat mereka ambil.

Idul Adha membawa kita mengingat kembali akan peristiwa sejarah Nabi Ibrahim, Hajar dan putranya (nabi Ismail) yang diabadikan di dalam kitab suci Al-Qur’an, yang mana napak tilas-nya menjadi awal tuntunan untuk udhiyah (menyembelih hewan qurban). Sudah lazim keluarga yang telah terbangun mendambakan hadirnya buah hati, begitu juga Nabi Ibrahim yang telah berpuluh-puluh tahun menikah dengan siti Syarah namun tidak kunjung memperoleh buah hati, hingga akhirnya siti Syarah mengusulkan suaminya untuk menikahi siti hajar, dari pernikahan dengan istri kedua inilah Nabi Ismail lahir. Saat Nabi Ismail menginjak usia remaja, Sang Bapak diminta untuk menyembelih anak yang disayanginya sebagai bentuk pengorbanan kepada Tuhan. Dengan keikhlasan dan keyakinan yang kuat Keduanya  rela melaksanakan perintah tersebut. Tuhan pun mengganti pengorbanan tersebut dengan kambing. 

Pengorbanan tersebut tidak lain untuk nusuk atau qurban (ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah) semua itu mengajarkan kita agar rela menyerahkan apa yang dicintai untuk dikembalikan kepada Sang Pemilik, yaiut Allah SWT, segala apapun yang kita miliki merupakan titipan dari-Nya dan kapanpun bisa saja diminta kembali. Nilai qurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah namun kita boleh berharap agar Allah membebaskan kita dari setiap bagian api neraka dengan perantara Qurban tersebut. Dalam kitabnya, Imam Nawawi menyinggung mengenai kesempurnaan berkurban dalam kitabnya : “tidak akan sampai pada ridlo Allah daging-daging qurban dan darahnya kecuali dari amal-amal yang tulus dari kalian”. 
MENGEMBALIKAN HAK  DAN NILAI QURBAN