Artikel
Opini
Tokoh
Cerpen
Humor
Tips
Seni Budaya
Gallery
cerpen
Keluh Sang Sajadah Merah
Oleh : Siti Rodliyah
Suara takbir menggema di seluruh penjuru langit, menembus
awan-awan, menjelajah jagat alam. Tak sedikit para hati tergerak untuk melangkahkan kaki menuju ke
tempat di mana ia bisa berhadap. Dan sangat banyak hati yang tertutupi oleh
sekat-sekat. Lima kali setiap harinya takbir itu menggaung di bawah langit dan
memecahkan kehiruk pikukan dunia yang ternyata penuh nista. Sebut saja Imron,
laki-laki tua yang pertama kali membawaku ke ruangan besar, dindingnya penuh
dengan ukiran kaligrafi, banyak tiang yang berdiri kokoh, ada kubah besar tepat
berada di atasku. Aku digelar dengan seksama oleh Imron, ketika diriku sudah
terbaring lurus, kutoleh disamping kanan kiri, banyak kawan sama terbaring
lurus denganku. Woow, berarti diriku berada di tempat yang istimewa, nyatanya
aku banyak menjumpai kawan-kawan dengan berbagai warna dan corak. Pada kali
pertama aku dibawa sosok hamba Allah ke rumah ibadah yang megah itu. tak
terbayangkan olehku sebelumnya. Aku mencoba memperkenalkan diri pada
kawan-kawanku yang senasib, sebenarnya aku tak tahu namaku siapa, yang jelas
aku seringkali dijuluki sang sajadah merah, karena warnaku memang merah. Ya,
merah yang menyala, dan harapan besarku adalah siapapun yang memilikiku,
kapanpun itu bisa menyalakan semangat untuk menghadap Sang Pencipta.
Aku teringat, dulu, dulu sekali, Imron si laki-laki tua
yang taat beribadah itu memanfaatkanku dengan baik. Tidak cukup lima kali
diriku digelar di atas tanah, tapi lebih dari itu. Meskipun seringnya aku
dibawa ke surau kecil dan sangat sederhana oleh Imron, tapi kekhusyu’an doanya
membuatku jauh lebih damai dibanding aku dibawa ke tempat yang megah dan penuh
ukiran seni tapi tak kurasakan kekhusyu’an di sana.
Dulu, dulu sekali, aku senang sekali jika Imron si
laki-laki tua yang taat beribadah itu membawaku serta dalam doa, senandung
Al-Qur’an, dan dzikir malamnya. Ah, hal itu yang sangat kurindukan. Meskipun
pada malam hari seringkali diriku terbasahi oleh air mata si laki-laki tua itu.
Justru hal itu membuat sejuk diriku meski kadang kurasakan dingin yang sangat,
karena sepanjang malam diriku dibiarkan terbaring lurus. Kau memang kadang tak
peduli dengan keadaanku kala itu, karena kau sibuk sekali mengayunkan tasbih
kayumu Imron.
Aku teringat lagi, dulu, dulu sekali, kau Imron si
laki-laki tua yang taat beribadah hanya akan mencuciku jika memang bauku sudah
tak sedap lagi. Sebenarnya itu membuatku kesal, bagaimana tidak? Seharusnya aku
dicuci paling tidak sebulan sekali, biar aku bisa merefreshkan diri untuk
selalu kau ajak dan kau bawa untuk menghadap sang pencipta. Hemm, harusnya kau
lebih memperhatikan itu dulu. Ah, sekarang kekesalan itu hanya sebuah kenangan
yang tak akan terulang lagi.
Sekarang, aku hanya bisa mengingat kenangan itu, andai
saja aku diciptakan dengan kedua mata, aku akan cucurkan air mata sebanyak-banyaknya,
andai saja aku diciptakan dengan satu mulut, aku akan teriak sekeras-kerasnya,
andai saja aku diciptakan dua kaki yang mampu berjalan, aku akan lari sekencang-kencangya
untuk kembali ke masa di mana aku bersama Imron, si laki-laki tua yang taat
beribadah itu. Aku merindukan momen-momen yang seharusnya aku alami, bukan di
balik kayu balok yang pengap ini, yang hanya ada cahaya lilin untuk menyinari
ruang kecil, sesak kurasakan. Aku ingin menampakkan diri, tapi bagaimana aku
bisa tampak? Tumpukan kain di atasku setiap hari semakin banyak, dan semakin
menutupi diriku yang terlanjur kusam. Dan hal itu semakin hari membuatku semakin berat untuk
menyanggah kenyataan ini. Terkadang aku merintih melihat keadaanku sekarang.
Dulu, bicara dulu lagi, ketika Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu
meninggalkan aku sendiri, keadaanku masih bagus, masih layak untuk
dimanfaatkan, masih fresh dan wangi meski hanya bau-bau itu saja. Ah, mengingat
itu membuat rinduku semakin membuncah pada suasana damainya menghadap sang
pencipta dan dzikir yang dalam. Aku tidak seperti laki-laki tua yang taat
beribadah itu, yang selama nafasnya berhembus, dia bisa melakukan ritual yang mendamaikan
jiwa, pikiran dan raga itu. Aku hanya benda mati yang menjadi saksi laki-laki
tua yang taat beribadah itu melakukan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Sebenarnya aku masih bisa bersaksi untuk orang lain, tapi apa daya, aku
terlanjur diasingkan di balik kayu balok yang pengap ini. yang hanya ada cahaya
lilin untuk menyinari ruang kecil, sekali lagi sesak kurasakan. Kali ini tidak
hanya sesak karena tempat yang pengap, tapi sesak karena kerinduan yang dalam
dan harus menerima kenyataan yang pahit ini. sudah sekian lama aku terkurung di
sini, sesekali aku diajak dan di bawa oleh seorang laki-laki muda yang gagah
dan tampan, serta berpakaian yang bagus dan rapi ke tempat yang penuh dengan
kebisingan, meski ada sayup-sayup suara takbir. Boro-boro setiap hari lima kali aku dibawa, hal itu tidak setiap hari, setiap minggu atau bahkan setiap bulan, tapi hanya
setiap tahun. Setiap tahun pun
aku tak selalu diajak oleh laki-laki muda itu. Ketika aku
diajak dan dibawa ke tempat yang sesak dengan manusia, entah tempat ibadah atau
tidak, aku tak bisa membedakan. Tapi aku yakin itu tempat ibadah karena aku
melihat kubah besar di atasku, aku teringat dulu, dulu sekali diajak Imron ke
tempat yang tak jauh berbeda dengan tempat yang sekarang kulihat ini. ya, meski
sekali aku diajak Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu ke tempat
seperti ini, aku ingat betul, kenangan itu tersimpan baik. kujumpai
kawan-kawanku lagi yang penampilannya jauh lebih menarik dariku, kusapa kawan
senasibku, kuperkenalkan diri dengan menyebutkan julukanku sang sajadah merah.
Mereka tertawa, mereka menganggapku tua dan kusam, mereka mengaggapku tak layak
di tempat seperti itu. Ah, hal itu seharusnya membuatku sedih dan malu, tapi
aku abaikan ejekan mereka terhadap diriku.
Takbir, takbir, suara takbir yang lama tak kudengar,
terdengar di tempat aku diajak oleh laki-laki muda itu. Ah, andai aku
diciptakan punya satu hati, aku pasti meluapkan perasaan bahagia dan sedihku
kala itu. Tapi, tapi, suasana doa dan dzikir kala itu, tak kurasakan damai
seperti dulu ketika aku bersama Imron si laki-laki tua yang taat beribadah,
suasana doa dan dzikir itu tak sekhusyu’ dulu aku bersama Imron. Ah, itu sama
saja buatku, keluar atau tidak keluar dari kayu balok yang pengap itu.
Tapi itu membuat diriku sedikit terhibur. Karena
laki-laki muda itu kadang memberikan aku dengan semprotan minyak yang wangi
sekali, hal itu lebih baik dari Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu,
hanya memberiku minyak wangi yang baunya itu-itu saja. Tapi hanya sebatas itu,
tak lebih. Aku bahkan tak mengenali siapa nama laki-laki muda yang sesekali
mengajakku keluar itu. Ah, tak lama aku di ajak laki-laki muda itu, aku dilipat
lagi dan kembali ke dalam kayu balok yang pengap itu. Sekarang, kayu balok itu
menyaksikan kenyataan pahit yang aku terima. Itu semua keluhku “sang sajadah
merah” yang sudah kusam dimakan waktu, karena tak ada yang memanfaatkan aku
seperti dulu, dulu sekali.
Pukul
16:14, 17 April 2016 di Ponpes Al-Anwar 3 putri
(termenungku
di atas sajadah merah (pink) yang selalu menemani shalatku setiap waktunya,
sajadah turunan yang diberikan oleh sang nenek, ke ibu dan sekarang bersamaku).
S_R
Keluh Sang Sajadah Merah
Oleh : Siti Rodliyah
Suara takbir menggema di seluruh penjuru langit, menembus
awan-awan, menjelajah jagat alam. Tak sedikit para hati tergerak untuk melangkahkan kaki menuju ke
tempat di mana ia bisa berhadap. Dan sangat banyak hati yang tertutupi oleh
sekat-sekat. Lima kali setiap harinya takbir itu menggaung di bawah langit dan
memecahkan kehiruk pikukan dunia yang ternyata penuh nista. Sebut saja Imron,
laki-laki tua yang pertama kali membawaku ke ruangan besar, dindingnya penuh
dengan ukiran kaligrafi, banyak tiang yang berdiri kokoh, ada kubah besar tepat
berada di atasku. Aku digelar dengan seksama oleh Imron, ketika diriku sudah
terbaring lurus, kutoleh disamping kanan kiri, banyak kawan sama terbaring
lurus denganku. Woow, berarti diriku berada di tempat yang istimewa, nyatanya
aku banyak menjumpai kawan-kawan dengan berbagai warna dan corak. Pada kali
pertama aku dibawa sosok hamba Allah ke rumah ibadah yang megah itu. tak
terbayangkan olehku sebelumnya. Aku mencoba memperkenalkan diri pada
kawan-kawanku yang senasib, sebenarnya aku tak tahu namaku siapa, yang jelas
aku seringkali dijuluki sang sajadah merah, karena warnaku memang merah. Ya,
merah yang menyala, dan harapan besarku adalah siapapun yang memilikiku,
kapanpun itu bisa menyalakan semangat untuk menghadap Sang Pencipta.
Aku teringat, dulu, dulu sekali, Imron si laki-laki tua
yang taat beribadah itu memanfaatkanku dengan baik. Tidak cukup lima kali
diriku digelar di atas tanah, tapi lebih dari itu. Meskipun seringnya aku
dibawa ke surau kecil dan sangat sederhana oleh Imron, tapi kekhusyu’an doanya
membuatku jauh lebih damai dibanding aku dibawa ke tempat yang megah dan penuh
ukiran seni tapi tak kurasakan kekhusyu’an di sana.
Dulu, dulu sekali, aku senang sekali jika Imron si
laki-laki tua yang taat beribadah itu membawaku serta dalam doa, senandung
Al-Qur’an, dan dzikir malamnya. Ah, hal itu yang sangat kurindukan. Meskipun
pada malam hari seringkali diriku terbasahi oleh air mata si laki-laki tua itu.
Justru hal itu membuat sejuk diriku meski kadang kurasakan dingin yang sangat,
karena sepanjang malam diriku dibiarkan terbaring lurus. Kau memang kadang tak
peduli dengan keadaanku kala itu, karena kau sibuk sekali mengayunkan tasbih
kayumu Imron.
Aku teringat lagi, dulu, dulu sekali, kau Imron si
laki-laki tua yang taat beribadah hanya akan mencuciku jika memang bauku sudah
tak sedap lagi. Sebenarnya itu membuatku kesal, bagaimana tidak? Seharusnya aku
dicuci paling tidak sebulan sekali, biar aku bisa merefreshkan diri untuk
selalu kau ajak dan kau bawa untuk menghadap sang pencipta. Hemm, harusnya kau
lebih memperhatikan itu dulu. Ah, sekarang kekesalan itu hanya sebuah kenangan
yang tak akan terulang lagi.
Sekarang, aku hanya bisa mengingat kenangan itu, andai
saja aku diciptakan dengan kedua mata, aku akan cucurkan air mata sebanyak-banyaknya,
andai saja aku diciptakan dengan satu mulut, aku akan teriak sekeras-kerasnya,
andai saja aku diciptakan dua kaki yang mampu berjalan, aku akan lari sekencang-kencangya
untuk kembali ke masa di mana aku bersama Imron, si laki-laki tua yang taat
beribadah itu. Aku merindukan momen-momen yang seharusnya aku alami, bukan di
balik kayu balok yang pengap ini, yang hanya ada cahaya lilin untuk menyinari
ruang kecil, sesak kurasakan. Aku ingin menampakkan diri, tapi bagaimana aku
bisa tampak? Tumpukan kain di atasku setiap hari semakin banyak, dan semakin
menutupi diriku yang terlanjur kusam. Dan hal itu semakin hari membuatku semakin berat untuk
menyanggah kenyataan ini. Terkadang aku merintih melihat keadaanku sekarang.
Dulu, bicara dulu lagi, ketika Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu
meninggalkan aku sendiri, keadaanku masih bagus, masih layak untuk
dimanfaatkan, masih fresh dan wangi meski hanya bau-bau itu saja. Ah, mengingat
itu membuat rinduku semakin membuncah pada suasana damainya menghadap sang
pencipta dan dzikir yang dalam. Aku tidak seperti laki-laki tua yang taat
beribadah itu, yang selama nafasnya berhembus, dia bisa melakukan ritual yang mendamaikan
jiwa, pikiran dan raga itu. Aku hanya benda mati yang menjadi saksi laki-laki
tua yang taat beribadah itu melakukan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Sebenarnya aku masih bisa bersaksi untuk orang lain, tapi apa daya, aku
terlanjur diasingkan di balik kayu balok yang pengap ini. yang hanya ada cahaya
lilin untuk menyinari ruang kecil, sekali lagi sesak kurasakan. Kali ini tidak
hanya sesak karena tempat yang pengap, tapi sesak karena kerinduan yang dalam
dan harus menerima kenyataan yang pahit ini. sudah sekian lama aku terkurung di
sini, sesekali aku diajak dan di bawa oleh seorang laki-laki muda yang gagah
dan tampan, serta berpakaian yang bagus dan rapi ke tempat yang penuh dengan
kebisingan, meski ada sayup-sayup suara takbir. Boro-boro setiap hari lima kali aku dibawa, hal itu tidak setiap hari, setiap minggu atau bahkan setiap bulan, tapi hanya
setiap tahun. Setiap tahun pun
aku tak selalu diajak oleh laki-laki muda itu. Ketika aku
diajak dan dibawa ke tempat yang sesak dengan manusia, entah tempat ibadah atau
tidak, aku tak bisa membedakan. Tapi aku yakin itu tempat ibadah karena aku
melihat kubah besar di atasku, aku teringat dulu, dulu sekali diajak Imron ke
tempat yang tak jauh berbeda dengan tempat yang sekarang kulihat ini. ya, meski
sekali aku diajak Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu ke tempat
seperti ini, aku ingat betul, kenangan itu tersimpan baik. kujumpai
kawan-kawanku lagi yang penampilannya jauh lebih menarik dariku, kusapa kawan
senasibku, kuperkenalkan diri dengan menyebutkan julukanku sang sajadah merah.
Mereka tertawa, mereka menganggapku tua dan kusam, mereka mengaggapku tak layak
di tempat seperti itu. Ah, hal itu seharusnya membuatku sedih dan malu, tapi
aku abaikan ejekan mereka terhadap diriku.
Takbir, takbir, suara takbir yang lama tak kudengar,
terdengar di tempat aku diajak oleh laki-laki muda itu. Ah, andai aku
diciptakan punya satu hati, aku pasti meluapkan perasaan bahagia dan sedihku
kala itu. Tapi, tapi, suasana doa dan dzikir kala itu, tak kurasakan damai
seperti dulu ketika aku bersama Imron si laki-laki tua yang taat beribadah,
suasana doa dan dzikir itu tak sekhusyu’ dulu aku bersama Imron. Ah, itu sama
saja buatku, keluar atau tidak keluar dari kayu balok yang pengap itu.
Tapi itu membuat diriku sedikit terhibur. Karena
laki-laki muda itu kadang memberikan aku dengan semprotan minyak yang wangi
sekali, hal itu lebih baik dari Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu,
hanya memberiku minyak wangi yang baunya itu-itu saja. Tapi hanya sebatas itu,
tak lebih. Aku bahkan tak mengenali siapa nama laki-laki muda yang sesekali
mengajakku keluar itu. Ah, tak lama aku di ajak laki-laki muda itu, aku dilipat
lagi dan kembali ke dalam kayu balok yang pengap itu. Sekarang, kayu balok itu
menyaksikan kenyataan pahit yang aku terima. Itu semua keluhku “sang sajadah
merah” yang sudah kusam dimakan waktu, karena tak ada yang memanfaatkan aku
seperti dulu, dulu sekali.
Pukul
16:14, 17 April 2016 di Ponpes Al-Anwar 3 putri
(termenungku
di atas sajadah merah (pink) yang selalu menemani shalatku setiap waktunya,
sajadah turunan yang diberikan oleh sang nenek, ke ibu dan sekarang bersamaku).
S_R
TAK SELAMANYA LANGIT MENDUNG
Oleh: Mamlu’atul Ilmiyah -LPM-GP 16*
Namaku Vita, aku akan
menceritakan seseoranng yang pernah aku sesali. Waktu itu, usiaku menginjak 20
tahun. Usia yang muda dan masih memikirkan diriku sendiri. Aku adalah putri
semata wayang seorang konglomerat muda. Aku telah ditinggal ibu saat usiaku 15
tahun. Sungguh keadaan yang benar-benar tak ku inginkan. Ayahku sibuk dengan
profesinya, dan aku lebih banyak menghabiskan hariku dengan senang-senang.
Di kampus, aku termasuk kategori
wanita idaman kaum adam, dengan tubuh tinggi semampai aku bisa mendapat
laki-laki manapun yang aku suka tapi, hanya satu orang yang cukup dekat
denganku. Ia Haikal seorang laki-laki yang tangguh dalam bidang apapun.
Selain di sekolah, aku cukup aktif
dalam social media, dalam jejaring internet yang semakin maju, aku mempunyai
cukup banyak teman dan satu yang paling ku anggap bersahabat. Namanya Array
seorang mahasiswa kedokteran di USA. Dia seorang yang religious. Ia pernah
bercerita, ketika ia tak boleh masuk ke kelas karena terlambat dan dia lebih
mengutamakan Sholat daripada mata kuliahnya.
###
Suatu malam saat makan malam bersama
ayah, aku diajak berbincang mengenai pendapatku jika aku mempunyai ibu baru, dan
ayah mengatakan bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat ini. Akupun kaget
bukan main. Belum aku menghabiskan makananku, akupun langsung pergi meninggalkan
meja makan dengan kondisi yang labil.
Sebelum kembali ke kamar, aku sempat
mengatakan kepada ayahku “yah ,, aku sudah ditinggal ibu, tentu aku mempunyai
beban yang sangat berat .. masihkah ayah mau membebaniku dengan mendatangkan
wanita baru di rumah ini, sedangkan bayangan tentang ibu masih belum bisa ku
lupakan ??? terserah ayah mau menikah dengan siapapun aku tak peduli !!” dengan sedikit mengancam.
“Vita, tunggu!! Ayah hanya ingin
memberi yang terbaik untukmu, sayang ,, dan ayah yakin kamu pasti menyukai
pilihan ayah ini, “ jelas ayah
“itu bukan pilihan yang terbaik yah,
itu keegoisan ayah semata !!”
“Vita, tunggu !! ayah belum selesai
bicara !!” aku tak peduli, hanya isakan tangis yang menemaniku hingga pagi.
###
“Array ???!!!”
“Vita ??”
Begitu terkejutnya aku jika yang
kubuka pintunya adalah seorang yang cukup ku kenal. Ya, dia array sahabatku,
tempat buku diaryku bersanggar. Aku keget bukan kepalang ketika mengetahui
bahwa ibunya adalah calon ibu tiriku ?? dan dia adalah kakak tiriku ?? memang,
dia pernah bercerita, jika dia sudah tak mempunyai ayah lagi, tapi tak dapat ku
terima semua ini, seorang yang dulu ku anggap dia seorang sahabat sekarang
dalam kedipan mata, berubah menjadi sosok yang ku benci. Mulai hari itu, aku tak pernah keluar dari
kamarku, hanya pembantu setiaku yang sudah mengerti watakiu dari kecil yang
hanya ku perbolehkan masuk ke kamarku.
Pernah suatu pagi ketika bi inah
(pembantuku) keluar belanja, aku keluar kamar sekedar mengambil air putih,
kujumpai ibu tiriku sedang menyiapkan sarapan untuk ayahku.
“ayo makan nak, ibu sudah memasakkan
makanan kesukaan kamu dan ayah kamu” ibu tiriku merayuku dengan menempelkan
tangannya ke pundakku. Betapa terkejutnya aku melihat cincin ibuku melingkar di
jari manisnya. Serentak aku menepis tangan wanita itu dan berkata kepada ibu
tiriku
“anda boleh menempati rumah ini,
anda boleh mengambil semua yang ada di rumah ini, bahkan anda boleh mengambil
ayahku, tapi satu yang anda tak boleh lakukan, jangan memakai barang kepunyaan
ibuku. Cincin itu punya beliau dan akan tetap menjadi milik beliau !!” tegasku.
“tapi ibumu sudah tak ada, nak .. “
“jangan panggil aku nak, aku bukan
anakmu. Kau bukan wanita yang telah melahirkanku, kau hanya menjadi istri dari
ayahku saja !!” bentakku.
Ternyata, keributan yang telah aku
buat membuat ayah serta array keluar dan menghampiri kami. Sementara ibu tiriku
menangis aku berusaha mengambil cincin itu dari jemari Sandra, Ibu tiriku. Hal
yang ku lakukan membuat ayahku marah dan ‘PPEELLLAAAKKKKKK.. !!!!!’ tiba-tiba
tamparan ayah mendarat di pipiku
“kenapa yah, ayah memukul anak ayah
sendiri demi membela wanita jalang ini ??” isakkanku mengiringi rasa sakit di
pipiku sebelah kanan.
“jangan kamu hina ibuku, !! “
tatapan aray memandangku dengan penuh kekesalan.
“selamat kamu wanita jalang, kamu mendapatkan
semuanya !!” aku pergi dengan tatapan penuh amarah. Setelah kejadian itu, aku
benar-benar tak mau keluar kamar, dan tak ada yang ku persilahkan masuk.
Suatu malam kepalaku pening, badanku
mengeluarkan keringat dingin, tapi rasanya panas, aku menjerit kesakitan
sewaktu aku hendak berdiri memanggil bi minah, aku terjatuh yang mungin
terdengar ribut dari luar. Bi minah yang mendengar langsung memanggilku dengan
gelisah “Neeng,, neng Vita??, neng Vita baik-baik saja kan neng ??”
“bb..b..bbii,,, b..b.bii
ii,,iinnahh, tolong Vv..itta bb..bi” dengan terbata aku mengucapkan sepatah dua
patah kata yang pada saat itu aku benar-benar tak mampu lagi mengatakan apapun.
“deeeen, den array… neng Vita deen,
tolong bukain pintunyaa” pinta bi inah. Terdengar pintuku mulai didobrak, dan
terdengar langkah bergegas menuju ke arahku, dan aku sudah tak tau lagi.
Perlahan mulai ku buka mataku yang
terasa masih berat. Tapi dengan sedikit berusaha aku mulai melihat orang yang
berada di sampingku dan aku melihat aray terjaga dari tidurnya, “kamu sudah
bangun??” tanyanya, dan aku hanya bangun, dalam hati aku sempat berguman
‘seandainya kamu bukan anak dari wanita yang ku benci, aku pasti tak akan
bersikap seperti ini’
Lambat laun kehidupanku semakin
berantakkan. Keluar malam, meneguk minuman keras bukan hal yang asing lagi
bagiku. Hingga ayahku masuk rumah sakit karena keegoisanku. Pada detik terakhir
sebelum ayah menghembuskan nafas terakhir, beliau sempat berpesan bahwa aku
harus menikah dengan Aray. Karena semenjak ada array ayah selalu rajin
mengerjakan Sholat, jadi beliau menganggap Array adalah laki-laki yang tepat
untuk menjadi imamku.
Setelah kepergian ayah, aku menikah
dengan Array, pernikahan yang tak pernah ku inginkan sepanjang hidupku.
Meskipun statusku sudah menikah, tapi kami masih menjalani hidup kami
sendiri-sendiri dengan kamar yang terpisah, tak saling menyapa meskipun
serumah.
Pemandangan seperti itu yang sedang
terjadi di rumahku. Ibu tiriku menghabiskan waktunya untuk mengurusi bisnis
ayahku, sedang Array suamiku, menjadi dokter yang ditugaskan di desa terpencil
jauh dari rumah. Aku sedikit kesepian, karena jika tak ada bi Inah, aku selalu
menyuruh Aray melakukan apapun yang aku mau. Memasak, menyuruhnya membuatkan
minuman, tapi tak ada keluhan yang dia rasakan. Kecuali ketika dia tahu aku
pulang larut malam dengan pakaian yang cukup minim dan membawa sebotol wiski,
dia marah tak kenal ampun. Keesokan harinya semua botol yang ada di kamarku dibuangnya.
###
Sudah hampir dua minggu Array belum
pulang, aku merasakan kesendirian, gelisah. Entah gelisah karena rindu atau
gelisah karena sebab yang lain. Ketika berjalan melewati kamarnya, aku
memberanikan diri masuk ke kamar Aray. Sungguh kamar yang cukup rapi untuk
ukuran laki-laki. Tempat tidur yang cukup besar dengan selimut motif catur.
Mataku langsung tertuju pada computer di sudut ruangan dan langsung ku nyalakan
computer itu tanpa basa basi. Aku bingung ketika ada kata sandi yang harus ku masukkan
sebelum mengoperasikan computer itu.
Sudah hampir 10 menit aku memutar
otakku mencoba mencari password yang cocok, mulai dari makanan favorit sampai
artis favoritnya tapi selalu salah. Ku
tulis ‘bulanbintang’ akhirnya masuk. Aku tercengang ketika kata yang tepat
adalah bulan bintang. Dulu ketika dia masih di USA aku memanggilnya bulan dan
dia memanggilku bintang, ‘rupanya dia masih ingat julukan itu’ gumanku. Kubuka
file-file miliknya, kutemukan suatu yang aneh lalu kubuka ternyata adalah buku hariannya.
Aku tersenyum geli membaca satu persatu.
26 Desember 2012
“Masa’
aku diketawain dosen, gara-gara aku nulis do’a di resep pasien. Mungkin mereka
nggak tau apa manfaat do’a.”
30 Desember 2012
“Aku
dikatain temen-temen gay gara-gara aku nggak pernah pacaran. Padahal prinsipku,
pacar pertamaku adalah istriiku.”
18 Januari 2013
“Hari
ini bintang sedih, dia inget ibunya, aku juga pengen hibur dia.. tapi gimana
lagii.. L L L”
24 februari 2013
“Aku
kaget setengah mati bahwa bintang adalah calon adikku. Aku takut betapa
marahnya dia ketika dia tau ibuku akan menikah dengan ayahnya…!!!”
16 Maret 2013
“Aku
merasakan betapa marahnya bintang saat aku dan ibuku tinggal di rumah ini ..
maaf bintang, itu juga bukan pilihanku.”
21 Juli 2014
“Aku
menikah dengan Vita, pesta yang cukup meriah, tapi sebenarnya aku tak suka
membuang-buang uang. Aku lebih menyukai yang sederhana saja. Toh pernikahan ini
bukan karena kami saling cinta.
27 Agustus 2014
Saat
aku perjalanan pulang dari rumah sakit, aku melihat gamis merah marun dengan
kerudung berwarna krem, sederhana tapi indah saat aku membayangkan ketika
istriku memakainya. Jadi aku beli untuknya.”
19 September 2014
“Aku
benar-benar marah melihat Vita memakai pakaian ketat dengan membawa wiski di
tangannya. Bayangkan sudah berapa pasang mata melihat keindahan tubuh Vita.
Sebenarnya aku tak rela istriku dilirik orang.”
Tak terasa air mataku menetes. Aku
tak menyangka dia benar-benar menyukaiku. Kemudian ku buka almari dan benar,
gamis yang indah, yang jika ia membayangkan aku akan terlihat cantik memakai
ini. Gamis itu tertata rapi dalam almari.
Aku menunggu kedatangan suamiku dengan
memakai baju panjang yang ia belikan, aku sudah mulai berhijab, setidaknya
laki-laki tak akan memandangku dengan pikiran kotor mereka seperti yang suamiku
khawatirkan. Tak lama ku menunggu, telepon pun berdering. Kudengar suara di
telepon begitu bissing. Tapi, aku bisa dengar dengan jelas ketika perempuan
penelpon itu memberitahukan keadaan suamiku yang berada di UGD rumah sakit. Aku
terkejut langsung mengambil tas dan segera pergi menemui suamiku.
###
Kulihat sumiku terbaring lemas di
atas ranjang. Langkahku sayu, air mataku mengalir, memandangi kejadian ini. Ku
pegang tangan suamiku yang hangat, kuucapkan salam sembari mencium tangannya. Perlahan,
dia membuka mata, dua pasang mata kami telah bertemu. Sekelebat senyum
mendamaikan hatiku.
“maafkan aku, mas … “ isak ku, mas Array
hanya tersenyum sembari membelai kerudungku. Ku merasakan penyesalan yang
sangat mendalam, masa lalu itu kini hanya tingal penyesalan. Dan ku belajar,
bahwa tak selamanya langit mendung menutupi cerahnya hidupku. Kini, aku hidup
dengan keluarga baruku yang dulu tak pernah ku inginkan, kini aku merasa
bahagia dengan datangnya buah hatiku dengan mas array. Alhamdulllah. ‘L’
Gagal
Cinta Pembangun Kesuksesan
Karya : Aji Pangestu
“Pokoknya kamu harus sekolah
di Madrasah !!!”
“Enggak Pa, Ashraf nggak mau !
pokoknya Ashraf pengen di SMA dan ambil jurusan Bahasa.”
Pertengkaran
itu berlangsung lama dari biasanya yang terjadi. Ashraf hanya ingin maunya kali ini dituruti.
Bapaknya juga tak mau kalau kemauannya ditentang oleh Ashraf, semua untuk
kebaikan ashraf juga. Semua sudah
dipikirkan oleh Pak Rosyid.
Sejak saat
itu Ashraf sudah tak seperti anak Pak Rosyid lagi, ia menjadi anak yang brutal.
Bahkan kerap membuat onar di Madrasah. Ia tak seperti anak Madrasah yang
berperilaku nyantri dan sopan. Ia kerap mabuk dan meninggalkan kewajibannya
sebagai khalifah dibumi. Bapaknya sudah sambat dengan perilaku anaknya yang
semakin hari semakin brangas akan haus darah manusia. Bapaknya bukan orang yang
kaya, rumah saja hampir tak layak untuk ditempati sekeluarga. Itu juga salah
satu alasan Papanya menyekolahkan Ashraf di Madrasah agar tidak terlalu tinggi
biayanya mengenyam pendidikan dan di Madrasah Agama lebih ditekankan dibanding
sekolah umum. Negara ini perlu orang
yang Jujur, Adil, dan Bertaqwa.
Dengan
keadaan yang sedemikian rupa istri Pak Rosyid kerap marah-marah dan tidak
peduli dengan suaminya. Ashrafpun seolah mengerti, tapi ia sudah tak bisa
berfikir jernih lagi. Semua itu karna ia tak bisa bersekolah di SMA impiannya.
Dengan cobaan yang rumit istri Pak Rosyid
berniat ingin minta cerai dengan suaminya, Pak Rosyid berusaha demi
menjaga perbuatan halal tapi dibenci Allah SWT itu tak pernah terjadi pada
keluarganya. Semuanya sia-sia, memang takdir berkata lain. Pertengkaran hebat
terjadi padawaktu Ashraf pulang Sekolah. Pikiran penat, hati gundah, badan lelah tapi suasana
rumah begitu mencekam. Dengan berat hati Pak Rosyid mengatakan talak pada
istrinyya, dan Ashraf tak bisa berfikir apa-apa. Ia linglung seketika, dan
seketika mengadu do’a pada Allah. Kini semua usai. Ashraf dan Pak Rosyid
tinggal berdua dirumah, tak ada lagi panggilan Mama. Rumah juga nampak sepi
setelah kejadian itu.
“Pa, Ashraf minta maaf. Ini
semua mungkin kutukan Allah karna Ashraf sudah berseteru pada Allah, tapi
Ashraf janji Ashraf akan berubah.”
“Asal Ashraf berjanji selalu
sholat dan berubah menjadi taat dijalan Allah , Papa memaafkan Ashraf.”
Mereka berdua berpelukan seperti kekasih yang tak
lama berjumpa, malam larut dengan desiran anginnya yang merdu. Sampai nanti
bulan merindukan fajar datang.
Gadis cantik berkulit putih
mematahkan penglihatan Ashraf kala itu, saat ia menyebrang jalan dan menyadari
bidadari bisa berjalan dibumi. Ashraf bersama teman-temannya terpana oleh
keelokan Gadis berkerudung hijau itu, Gadis itu sekolah di SMA yang dulunya di
immpikan Ashraf namun kandas. Ashraf
menjumpai gadis itu dipinggir jalan, mereka berdua sempat berkenalan. Tapi tak
lama Cuma Ashraf bisa mengetahui namanya saja. Tapi seragam yang dipakai sudah
jelas ia bukan satu Madrasah dengan mereka.
Cinta tak kenal kapan, dimana, siapa dan
apapun. Mereka berdua saling jatuh cinta dan berpacaran. Tapi tak lama,
setelah mereka berpacaran Abah Lintang mengetahuinya dan seketika itu meminta
Lintang untuk tidak berhubungan dengan Ashraf. Abahnya Lintang menemuiku saat
pulang sekolah ditempat temanku yang
dekat dengan rumah Lintang, dengan tegasnya Abah Lintang melarang Ashraf berhubungan dengan Lintang, hubungan
merekapun kandas.
Papa Mama
Ashraf sudah cerai, hubungan asmara kandas, lengkap sudah penderitaan Ashraf,
penyemangatnya sudah pergi. Tapi Ashraf bukan lelaki yang berfikir pendek
sekarang, penolakan dimasa kini ia jadikan motivasi untuk berjuang mengarungi
lautan ilmu yang menunggunya didalam buku. Ia pernah bercita-cita menjadi
penulis, tapi pernah hilang akal juga sehingga jadi pemabuk. Semua masalalu ia
kubur dalam-dalam dan ia bangun masa depan yang menantinya dengan matang.
Berkat semua itu kini Ashraf sudah punya
buku-buku karyanya sendiri. Ia terbitkan dan salah satu dari buku
karangannya melajut Populer dan mendapatkan penghargaan dari berbagai sumber.
Yang paling berharga ialah ia bisa mendapat beasiswa di Al-Azhar University. Ia
bangga dengan masa lalunya yang dapat mengubah ashraf menjadi jaya.
Perpisahan
meneteskan air mata dan mengurass kesedihan. Detik-detik penerbangan
Ashraf ke Tanah yang teramat terjaga
kesuciannya , Papanya selalu berpesan ia harus bisa menjadi apa yang sudah
dicita-citakannya dan menyelasaikan apa yang sudah dimulainya. Begitu semangat
Ashraf belajar di Al-Azhar, kini ia
tengah mengurus Sidang Skripsinya, dan semua berjalan lancar ia mendapat
predikat lulusan terbaik tahun ini, ia tengah mengharumkan nama bangsanya.
Sambutan meriah digelar Pemerintah atas jasanya,
dihadiri ratusan orang-orang penting di Gedung Indonesia. Ashraf berjumpa Bapak
tua dan menghampirinya, tak asing seperti pernah melihatnya. Bapak itu spontan
memberi selamat atas keberhasilan mencapai kejayaannya. Kemudian memori lama
memberitahu jika Bapak itu adalah Abah Lintang, gadis yang dicintainya dulu.
Bapak itu meminta maaf atas sikapnya dahulu.
“Bapak minta maaf Ashraf, dulu
telah bersikap kasar padamu.”
“Semua itu sudah takdir dari
Allah, Bapak sudah tidak berdosa atas saya. Keduanya tersenyum, bagaimana
dengan Lintang? Apa ia masih sendiri?
kiranya ia masih mencintai saya, saya akan segera menikahinya.”
Bapak itu
bahagia, ia tak bisa mengucapkan kata apa-apa dan hanya terkejut tersenyum
lega. Mereka berdua lalu berpelukan
seperti ayah dan anak. Janji Allah SWT memang tiada yang ingkar, semua yang
telah digariskan akan tetap digarisnya. Kini Ashraf mempunyai keluarga beasar
yang bahagia.
TEMAN
MISTERIUS
Oleh
: S_R
Ketika
aku mulai mengangkat pelupuk mata, ingin bangkitkan raga, dan menyongsong masa,
rasanya masih berat tinggalkan dunia
mayaku saat terlelap. Ah, mimpi tadi malam terlalu indah. Aku harus bangun
meski rasa malas memberatkan tubuh ini. Iqamat subuh sudah berlalu sekitar 10
menit, terngiang teriakan emak memanggil namaku. “Mat, Rahmat...bangun,
bergegaslah shalat subuh!” Huh, mau tidak mau aku harus bangkit untuk
menjalankan shalat subuh. Sarung kusingkap dan aku bergegas menuju kamar mandi
untuk berwudlu. Karena aku bangun telat, akhirnya aku shalat subuh sendirian.
Meski wajah sudah terbasuh air, tapi kantuk masih saja nakal gelayuti mata.
Dengan tenang meski tak terlalu khusyu’ aku dirikan kewajiban yang tak boleh
ditinggalkan ini. Ketika salam kedua selesai, tiba-tiba si Rahman sudah berdiri
di hadapanku. Rahman adalah anak yang tampan. Dia seumuran denganku, meski kami
baru berteman tapi dia sangat baik. “Rahman?? Darimana kamu?? Kamu bersih
sekali?” celetukku. “ ya habis dari
masjid lah, kan tadi shalat subuh berJama’ah. Aku ke sini mau jemput kamu, yuk
kita mengikuti pengajian rutin. Cepetan, ntar telat!!” tuturnya padaku. Dengan
senyum khasnya dia mengajakku bergegas pergi ke masjid. Tanpa ba bi bu, aku
mengikuti langkahnya. Wajah Rahman selalu ramah dan teduh, aku senang berteman
dengannya, dia berbeda dari yang lain. Sekitar 5 menit sudah sampai di masjid.
Aku dan dia kemudian ikut membuka telinga untuk mendengarkan pengajian yang
kebetulan bertemakan bagaimana harusnya kita berteman atau bergaul yang baik. Sebenarnya
aku malas mendengarkannya, paling ceramahnya ya gitu-gitu aja. Tapi kulihat
Rahman dengan khusyu’ mendengarkan pengajiannya. Ah, dia terlalu lurus. Tapi
didekatnya lama-lama aku gak enak jika tak ikut serta mendengarkan dengan
khusyu’. Hemmt!
Pukul
enam tepat pengajian selesai. “Rahman, aku pulang dulu ya, soalnya aku harus
sia-siap berangkat sekolah ni..”pamitku padanya. “Eit.. jangan pergi
buru-buru.. kita bareng aja jalannya.” Ajaknya. Dengan gaya santaiku, aku tak
bisa menolaknya. Ketika di tengah jalan, kita bertatap muka dengan nenek tua
yang sudah bungkuk menggendong jajanan. Seperti biasa, sikapku cuek bebek. Tapi
kulihat Rahman yang tadinya jalan disampingku, bergegas lari menghampiri nenek
tua itu dan membantu membawakan jajanan nenek tua itu. Aku melongo melihatnya.
“Rahman, kamu ngapain?? Buang-buang waktu aja. Yuk cepetan balik!!” pintaku.
Tapi si Rahman tetap membantu si nenek itu. Aku tidak tega meninggalkannya.
Akhirnya aku ikut membantu Rahman membantu nenek tua itu. Ketika dikira sudah
cukup jauh kami berdua membantu membawakan jajanan nenek itu, akhirnya kami
berdua pamit balik. Nenek itu terlihat sangat gembira dan sangat berterimakasih
padaku dan Rahman. Entah kenapa aku merasa begitu puas dan senang bisa membantu
nenek itu. Aku melihat wajah si Rahman, ya, senyum khasnya itu, tenang dan penuh
kasih sayang. Ah, andai wajahku setampan Rahman, pasti banyak yang suka padaku.
Aku
berjalan putar balik untuk kembali ke rumah, tapi ketika di persimpangan jalan
tiba-tiba si Rahman bilang, “ Mat, sudah sampai di sini aja za, aku mau pamit
pulang juga.” O, emangnya rumah kamu di mana?? Koq aku gak pernah tahu
rumahmu??” tanyaku. “Ah, kamu tak perlu tahu rumahku mana. Rumahku sangat jauh
dari sini.” Katanya. “loh, kalo jauh koq lo bisa sampai sini dan ketemu gue.”
Pertanyaan heranku. “yaa itu nanti kamu juga tahu alasannya. Udah dulu za.. aku
udah ditunggu banyak orang...” katanya dengan gugup. Terakhir senyum khasnya
itu mekar dari bibirnya. Dari kejauhan, aku mendengar suara emak
memanggil-manggil namaku. “Mat, Rahmaat...banguun... udah siang.. jangan tidur
aja...!! aku gelagapan mendengar jeritan emak ditelingaku. Ternyata kejadian
tadi hanya daun tidur, eh, bunga tidur maksudnya. Hhuuahh, ternyata aku
tertidur pulas di atas sajadah setelah sholat subuh. Aku teringat si Rahman,
sebenarnya dalam dunia nyata tak ada Rahman yang menjadi temanku. Itu hanya
dalam mimpi. Kulihat jam dinding udah menunjukkan jam tujuh kurang seperempat.
Wah, gawat! Telat berangkat sekolah ni..” emak koq gak bangunin Rahmat dari
tadi sih??” protesku pada emak. “emak tu habis pergi ta’ziyah dan baru datang.
Lah kamu jadi anak laki-laki koq lemos banget.”celoteh emak. “Ta’ziyah?? Emangnya
siapa yang meninggal mak??” tanyaku. “itu, cucunya mbah Darmi yang jualan jajan
meninggal. Kasihan, baru umur dua tahun nyawanya sudah dijemput sama Gusti Allah.”jawab
emak. “Ooo, siapa nama cucunya mak??” Tadi emak dengar sih namanya Rahman.
Mirip kayak nama kamu Mat.” Hahh!!!! “Kenapa kamu le?? Koq kaget gitu, o ya,
tadi kamu udah beneran sholat subuh belom??” selidik emak. “ya sudah lah mak,
tapi ( sambil ingat-ingat ) tadi aku... belum salam mak.” Oalah...!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Tolong Menolong dalam Islam Oleh: Siti Afiah Tolong menolong dalam bahasa A rab nya adalah ta’awun. Sedangkan menurut istilah, p...
-
Gus Bahak, Ulama Yang Enggan Dikenal Sewaktu menyantri di daerah Sarang, saya jadi tidak asing lagi mendengar nama Gus Bahak, orang...
-
Kekuatan Prasangka Oleh : M. Akrom Adabi Apa Itu Prasangka ? Prasangka merupakan sebuah dugaan yang terbesit dalam benak seorang ...

Recent Comment