Select Menu
Select Menu

Favourite

Artikel

Opini

Tokoh

Cerpen

Humor

Tips

Seni Budaya

Gallery



Prioritas Pendidikan Dalam Islam
oleh: Alawy Assyihab
Eksistensi suatu peradaban ditentukan oleh kamapanan suatu pendidikan. Bahkan bisa dibilang pendidikan merupakan aspek pokok yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Berangkat dari suatu konsep pendidikan yang benar, akan melahirkan suatu bangsa yang maju.
Ada suatu qaul yang mengatakan bahwa:
اطلب العلم من المهد اللحد
“tuntutlah ilmu mulai dari buaian ibu sampai masuk keliang lahat”
Dari qaul di atas bisa diidentifikasi, bahwa pendidikan harus sudah diterima oleh anak semenjak ia masih kecil atau masih dalam asuhan Ibu berlajut sampai ia dewasa dan meninggal.
            Selain itu, pendidikan anak usia dini menjadi penting. Sebab, dalam rangka membangun masyarakat yang ideal perlu ada suatu pengawasan terhadap perkembangan anak semanjak usia dini dan menjaganya agar tidak terpengaruh dengan budaya-budaya yang buruk. Sejarah pun telah mencatat bagaimana peran generasi muda terhadap keberhasilan suatu perjuangan.
            Hanya saja, muncul suatu permasalahan dalam system pendidikan yang diterapkan oleh masyarakat. Mayoritas masyarakat belum memahami prihal adanya skala proritas dalam pendidikan anak. Kebanyakan para orang tua dan pendidik lebih memprioritaskan pendidikan dalam dalam sisi duniawi. Bisa jadi ini disebabkan oleh sikap hedonisme yang muncul sebab globalisasi. Hedonisme sendiri merupakan suatu sikap yang menganggap bahwa materi adalah pokok dari kebahagiaan. Sehingga mereka tidak memperdulikan apa yang dia lakukan bisa merugikan orang lain atau tidak.
            Padahal selain itu masih ada pendidikan yang harus lebih diprioritaskan. Salah satunya adalah pendidikan karakter (budi pekerti). Umar Ahmad Baradja dalam kitab al-akhlak Lil Banin bercerita:
            Suatu hari Ahmad beserta Bapaknya bertamasya disebuah kebun (taman). Ahmad melihat setangkai bunga mawar yang indah. Akan tetapi, tangkai bunga tersebut bengkok.  Maka Ahmad berkata: betapa indahnya bunga ini. Tetapi, kenapa wahai bapakku ia bengkok? Bapaknya berkata: karena sesungguhnya tukang kebun tidak memperhatikan pada pertumbuhannya sejak kecil, maka jadilah bengkok. Ahmad berkata: alangkah lebih baiknya kita memperbaikinya sekarang. Bapaknya pun tertawa, kemudian berkata: tidak semudah itu wahai anakku, karena sesungguhnya ia sudah besar dan batangnya sudah mengeras.
Maka, seperti itulah gambaran seorang anak yang tidak dididik dengan budi pekerti yang baik sejak masih kecil. Tidak mungkin ia akan berbudi luhur ketika dewasa nanti. Sungguh begitu penting pendidikan karakter dalam pertumbuhan seorang anak. Maka tidak salah kalau pendidikan harus mendapat prioritas utama.
Makna Pendidikan Karakter
            Abdullah Nashih `Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam berpendapat pendidikan karakter adalah kumpulan dasar-dasar pendidikan budi pekerti serta keutamaan sikap dan watak yang wajib dimiliki oleh seorang anak dan dijadikan kebiasaannya semenjak usia tamyis hingga ia menjadi mukallaf (baliq). Hal ini terus berlanjut secara bertahap hingga sampai pada fase dewasa. Sehingga ia siap untuk mengarungi lautan kehidupan.  
            Tidak diragukan lagi bahwa keluhuran akhlak, tingkah laku dan watak adalah buah dari keimanan yang tertanam dalam pendidikan agama yang benar. Jika seorang anak kecil  tumbuh atas dasar keimanan kepada Allah SWT, terdidik atas dasar rasa takut kepadanya, merasa selalu mendapat pengawasan darinya, bergantung kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, dan berserah diri kepadanya. Maka akan terjaga dalam dirinya kefitrahan. Sebab, kuatnya agama yang mengakar dalam sanubarinya dan perasaan selalu diawasi oleh Allah SWT telah tertanam dalam hati. Semua itu akan menjadi suatu filter dalam diri anak tersebut terhadap sifat-siafat tercela dan mengikuti suatu kebiasaan jahiliyah yang buruk. Bahkan menerima suatu kebaikan menjadi hal biasa, serta kecintaannya terhadap suatu hal yang mulia menjadi tujuan utama dalam hidupnya.
             Akan tetapi, ketika pendidikan terhadap anak itu jauh dari tuntunan akidah Islam (keimanan), hanya sekedar arahan agama, hubungan manusia dan Allah SWT. Tanpa menanamkan suatu akidah yang kuat. Maka anak tersebut akan tumbuh di atas kefasikan, penyimpangan dan kesesatan. Sebab ia mungkin akan mudah goyah keimanannya ketika mendapat suatu cobaan dari Allah SWT. Bahkan hawa nafsu pun mudah untuk menuntunnya untuk berbuat suatu kejelekan dan mengikuti bisikan-bisikan setan.
            Dalam suatu dijelaskan :
حق الولد على والده ان يحسن اسمه ويحسن موضعه ويحسن ادبه (رواه البيهقى(
                “ Yang termasuk hak dari seorang anak atas adalah memberi nama yang baik, memberinya tempat yang baik, dan mengajarinya budi pekerti” (HR. Baihaqi)
Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa para pendidik terutama orang tua memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak untuk mengajarinya kebaikan dan prinsip-prinsip kesopanan.
            Para pendidik memiliki tanggung jawab dalam pendidikan anak mulai dari pembentukan akhlak semenjak mereka kecil, seperti kejujuran, amanah, tolong menolong, menghormati orang tua dan lain-lain.
Perbuatan Buruk
            Abdullah Nashih `Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad Fil Islam mengutarakan bahwa pendidikan yang baik menurut pandangan Islam yaitu ketika pendidikan tersebut menitik beratkan terhadap suatu perhatian dan pengawasan terhadap pertumbuhan Anak. Maka sudah seharusnya pada orang tua dan pendidik dan siapa pun yang menjadi pemerihati pendidikan dan akhlak untuk menghindarkan anak pada empat hal yang dibawah ini sebab merupakan perbuatan yang paling buruk, yaitu:
1.      Suka Berbohong
2.      Suka Mencuri
3.      Suka Mencaci dan Mencela
4.      Kenakalan dan penyimpangan.
Di antara empat kebisaan buruk di atas, kebiasaan suka berbohong merupakan akhlak yang paling tercela. Sebab, sifat pembohong termasuk dalam tanda-tanda orang munafik. Seperti yang dijelaskan dalam suatu hadis:
 عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان.
“ tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: ketika berkata ia bohong, ketika berjanji ia ingkar, dan ketika dipercaya ia berkhianat”
Setelah kita melihat dampak yang bisa ditimbulkan oleh berbohong. Maka tidak ada alasan bagi para pendidik untuk menjauhkan anak-anak dari sifat pembohong. Meskipun itu sifatnya untuk kebaikan, seperti menenangkan ketiak menangis, menenangkan suatu perkara kepadanya, atau menenangkan ketika  marah. Jika para pendidik melakukan hal-hal tersebut, maka sebenarnya mereka telah membiasakan mereka untuk melakukan hal-hal yang buruk berupa sebuah kebohongan. Disamping itu, kebohongan akan melemahkan suatu kepercayaan diri dan melemahkan kepercayaannya di masyarakat.
Setelah kita mengetahui bagaiman perlunya memahami konsep pendidikan yang diajarkan Islam, khususnya pendidikan karakter. Sebeb, ketika kita lalai dalam mendidik akhlak putra-putri kita, maka mereka akan melakukan penyimpangan dan prilaku yang buruk. Kemudian merekan akan menjadi suatu acaman bagi keamanan dan ketentraman di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, hendaknya kita selalu menanamkan keimanan yang kuat dalam mendidik anak. Laksanakanlah kewajiban, kerahkanlah semua kekuatan dan laksanakanlah tanggung jawab yang dibebankan kepada kita. Manakala kewajiban tersebut terlaksana dengan baik, maka kita akan melihat anak-anak kita tumbuh menjadi bunga yang wangi di dalam keluarga, bulan purnama yang bersinar terang di tengah masyarakat, dan seperti malaikat yang berjalan di muka bumi dengan tenang.


Pentingnya Memahami Ajaran Islam
oleh: Joko Supriyanto
Ketika berbicara mengenai pendidikan, maka kita tidak bisa terlepas dari suatu bagian penting yang ada di dalamnya, yaitu manusia. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna penciptaannya, ia diberi nikmat akal, nafsu, dan agama. Mengenai agama atau yang biasa dierat kaitkan dengan kepercayaan terhadap Sang Penguasa (Tuhan), dalam kehidupan manusia, tentunya seluruh manusia juga mempunyai Tuhan, karena mereka pasti membutuhkanNya. Tuhan atau  yang biasa dikenal Allah dalam kalangan kita sebagai orang Islam, adalah Dzat yang selalu bisa dibuat pegangan ketika seseorang sedang mengalami keterpurukan, kesedihan dan keputus asaan.
Islam sendiri sebagai agama ia juga memiliki norma-norma tertentu dan juga mempunyai beberapa sumber ajaran yang bisa dipertangung jawabkan. Adapun sumber ajaran Islam yaitu : al-Qur'an, al-Hadis, dan Ijtihad Ulama’.
Berbicara masalah agama, tidak terlepas dari kebutuhan kita sebagai hamba Allah yaitu senantiasa menyerahkan diri dan bertawakal terhadap kehendak Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama karena Allah telah menciptakannya sedemikian rupa. Sehingga agama merupakan kebutuhan hidup manusia itu sendiri.
v  Hakikat dan Fungsi Ajaran Islam
Ketika manusia mengmani adanya Tuhan, maka dia berusaha untuk bisa berhubungan denganNya, sehingga dia berusahamembersihkan hatinya, menyucikan jiwanya. Dia berusaha membentuk sikap patuh dan taat serta menimbulkan sikap dan perasaan mengagungkan Tuhan. Karena pada dasarnya, inti ajaran agama Islam adalah “Tauhid”  dan seluruh ajarannya mencerminkan ketauhidan serta tidak menyekutukan Allah.
Berbicara masalah agama, tidak terlepas juga dari masalah kehidupan manusia itu sendiri. Maka dari itu agama juga memiliki fungsi-fungsi tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli, semisal al-Maraghi, beliau berpendapat, bahwa agama itu bertujuan untuk :
Ø  Mensucikan jiwa dan membebaskan akal dari kepercayaan sinkritisme terhadap kekuatan ghaib yang dimiliki makhluk dalam menguasai alam agar makhluk atau selainnya tunduk dan patuh kepadanya.
Ø  Memperbaiki sikap bathin (qalb) atas dasar tujuan yang baik, agar dalam melakukan semua perbuatan dilandasi dengan niat yang ikhlas untuk Allah dan untuk manusia. (Lihat, al-Maraghi,jilid I, h. 118)

v  Ciri-Ciri Ajaran Islam
Ajaran agama Islam memiliki beberapa ciri, di antaranya sebagai berikut:
  1. Sesuai dengan fitrah hidup manusia, artinya (1) ajaran agama Islam mengandung petunjuk yang sesuai dengan sifat dasar manusia, baik dari aspek keyakinan, perasaan, maupun pemikiran, (2) sesuai dengan kebutuhan hidup manusia, (3) memberikan manfaat tanpa menimbulkan komplikasi, dan (4) menempatkan manusia dalam posisi yang benar.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. ar-Rum/30:30).
  1. Kebenarannya mutlak. Kebenaran itu dapat dipahami karena ajaran Islam berasal dari Allah Yang Maha Benar, dan dapat pula dipahami melalui bukti-bukti materiil, serta bukti riilnya. Karena itu Allah mengingatkan agar manusia tidak meragukan kebenarannya.
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. al-Baqarah/2:147).
  1. Fleksibel dan ringan, artinya ajaran Islam memperhatikan dan menghargai kondisi masing-masing individu dalam menjalankan aturannya, dan tidak memaksakan orang Islam untuk melakukan suatu perbuatan di luar batas kemampuannya.
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. al-Baqarah/2:286).
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa inti ajaran Islam adalah ketauhidan. Bermula dari ketauhidan itulah kemudian ada sikap untuk melanjutkan dengan melakukan perintah yang ditetapkan dan menjauhi yang dilarang. Jika seseorang telah melakukan hal tersebut, maka ia akan dapat mencapai tujuan dari ajaran Islam, wal hasil ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam menjalankan syari’at Islam, Islam juga tidak mempersulit seseorang, karena ajaran-ajarannya itu mudah dan menyesuaikan keadaan manusianya dan tidak memaksa. Selain itu ajarannya yang banyak termuat dalam al-Qur’an dan al-Hadis juga sudah disesuaikan dengan fithrah manusia dan juga sudah terbukti kebenarannya.

SABAR
Oleh: Joko Supriyanto*

Pengertian Sabar
Sabar menurut bahasa berasal dari bahasa arab “abara” yang berarti mencegah atau menahan. Sedangkan menurut istilah, adalah menahan diri dari sifat kegundahan, rasa emosi, menahan lisan dari keluh kesah, menahan anggota tubuh dari perbuatan yang melanggar aturan, serta kuat dalam melawan berbagai godaan. Allah Subḥānaḥu wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk bersabar, sebagaimana dalam firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan alat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” ( QS. Al-Baqarah : 153).

Sabar, Ciri Orang Beriman
Kesabaran merupakan salah satu ciri orang beriman. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa kesabaran itu merupakan sebagian dari wujud iman. Antara sabar dan iman mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan, bagaikan kepala dengan jasadnya. Artinya, tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad hidup yang tanpa memiliki kepala. Kesabaran seseorang akan menyempurnakan keimanannya, dan kesempurnaan tersebut telah digambarkan oleh Rasulullah Ṣallā Allāhu ‘Alayhi wa Sallama dalam hadist berikut ini:
عَنْ سُهَيْبِ رَضِيَ اللَّه عنه قَالَ ، قال رسول للَّه صلَّى اللَّه عليه وسلَّم " عَجَبًا لِاَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذاكَ لِاَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ اِنْ اَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ اَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ".
“Dari Suhayb Raḍiyallāhu ‘Anhu mengatakan : Rasulullah Ṣallā Allāhu ‘Alayhi wa Sallama bersabda: “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min, yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tesebut merupaka hal terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim).

Rasulullah Ṣallā Allāhu ‘Alayhi wa Sallama mengambarkan bahwa orang beriman itu memiliki pesona yang menakjubkan. Pesona tersebut senantiasa memancar jika seseorang tersebut selalu berprasangka baik (positif thinking). Dia memandang segala persoalan dari sudut pandang positif, dan bukan dari sudut pandang negatifnya. Sehingga dengan demikian, apapun yang diberikan Allah kepadanya selalu disikapinya dengan sabar, arif, dan bijaksana. Contohnya, ketika seseorang mendapatkan kebaikan, kebahagiaan, kesenangan dan lain sebagainya, ia selalu bersyukur kepada Allah. Begitu pun saat ia mendapatkan musibah, duka-cita, kesedihan, kemalangan, dan hal negatif lainnya, ia akan bisa menyikapinya dengan bersabar. Ia yakin bahwa yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya tidak akan ada yang sia-sia, atau dengan kata lain pasti ada manfaatnya. Ia akan mengartikan itu semua sebagai wujud kasih sayang Allah kepadanya. Dan memang biasanya Allah menguji kesabaran hamba-Nya melalui ujian berupa musibah yang diberikan kepadanya.

Hikmah di Balik Musibah
Ada banyak hikmah di balik musibah. Di antaranya, untuk membedakan siapa yang bertahan dan siapa yang lemah, siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang tidak benar-benar beriman. Orang yang bertahan dalam menjalani cobaan atau ujian, ia akan keluar sebagai pemenang dan meraih derajat yang lebih tinggi. Cobaan akan menyeleksi siapa yang terbaik amal perbuatannya. Allah Subḥanaḥu wa Ta’ālā  berfirman:
.الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”  ( QS. Al-Mulk : 2).

Ujian termasuk hikmah (kebijaksanaan) yang agung dari Allah. Bayangkanlah jika hidup ini berjalan datar, selalu damai, tenang, dan serba menyenangkan. Tentu manusia tidak akan pernah mengerti arti hidup, dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Keadaan yang demikian itu justru membuatnya lupa daratan dan mudah lupa dengan Allah.

Fir’aun, yang konon katanya tidak pernah sakit dan setiap keinginannya selalu tercapai, justru akhirnya ia menjadi sombong. Puncak kesombongannya adalah ia mengikrarkan diri sebagai Tuhan. Akibatnya dia ditenggelamkan Allah di laut Merah. Oleh karena itu, ketika kita mengalami kemudahan dan merasakan kesenangan terus menerus, hendaknya lebih berhati-hati. Karena di situlah orang mudah terlena dan lupa kepada Allah Subḥanaḥu wa Ta’ālā.

Hikmah lain di balik musibah ialah sebagaimana perkataan ulama’, “Engkau tidak akan merindukan surga kecuali ketika engkau merasakan pahitnya dunia.” Surga di sini bisa juga diartikan sebuah kesuksesan. Jadi, kita tidak akan sampai kepada kesuksesan jika tidak melalui kepahitan.

Ada sebuah ungkapan, “Seberapa besar penderitaanmu maka sebesar itulah kebahagiaanmu.” Maka dengan demikian, setiap cobaan yang kita alami jangan dianggap sebagai penghalang. Tapi jadikan motifasi untuk meraih kesuksesan yang lebih besar lagi, sehingga bisa membuat kita lebih semangat. Orang yang sering tertimpa musibah akan menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menjalani hidup ini. Ia akan  menganggap musibah sebagai suatu anugerah. Seperti halnya orang ufī, mereka justru merindukan ujian dari Allah. Sebab, mereka khawatir menjadi hamba yang lupa jika Allah tidak mengujinya.

Oleh karena itu, berbagai musibah yang mereka alami justru menyebabkan mereka selalu ingat. Tujuan Allah memberi cobaan adalah untuk mengetahui benar-benar taat atau tidaknya seorang hamba. Selain itu, musibah juga bisa menjadikan mereka pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya. Mereka juga ikhlas terhadap semua kehendak-Nya. Dengan begitu, selamanya mereka selalu dekat dengan Allah Subḥanaḥu wa Ta’ālā. Musibah bagi orang-orang ufī adalah berkah. Sedang bagi orang awam, musibah dianggap sebagai malapetaka.

Diceritakan bahwa Ummu Salamah Raiya Allāhu ‘Anhā kehilangan suaminya yang bernama Abu Salamah karena mati shahīd dalam perang Badar. Kita tahu bahwa barang siapa yang mati di perang Badar, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Jika Allah muncul kepada Ahli Badar maka Dia akan berkata: Lakukan apa yang kalian kehendaki, Aku telah mengampuni kalian.”

Mendengar suaminya terbunuh, Ummu Salamah mengucapkan Innā lillāhi wa Innā Ilayhi Rāji’ūna. Kemudian dirangkai dengan doa, “Wahai Allah, berilah aku pahala dalam musibah ini dan berikanlah yang lebih baik darinya.” Dan benar, Allah ternyata memberikan kebahagiaan kepada Ummu Salamah setelah ia melalui cobaan itu. Allah benar-benar mengganti Abu Salamah dengan yang lebih baik lagi, yaitu dinikahinya Ummu Salamah oleh Rasulullah Ṣallā Allāhu ‘Alayhi wa Sallama.

Cara Menyikapi Musibah
Hendaknya kita bersikap tegar dalam menghadapi segala musibah. Jangan berkeluh kesah kepada manusia, karena hal itu menandakan jiwa kita rapuh. Boleh memberitahukan apa yang kita alami kepada orang lain, tetapi bukan dengan berkeluh kesah. Seperti orang sakit mengadukan keadaannya kepada dokter, maka hal ini boleh. Atau saat ditimpa musibah berat, kemudian mengumpulkan sanak keluarganya untuk musyawarah bagaimana jalan keluar dalam menghadapi musibah itu.

Berkeluh kesah kepada Allah juga merupakan sikap yang tidak sabar. Namun jika berdoa, “Ya Allah berilah aku pahala dari musibahku, dan berilah yang terbaik bagiku.” Maka hal itu merupakan sikap ikhlas dalam menerima musibah. Wallāhu A’lam.

*Mahasiswa Semester III STAI AL-ANWAR.

Mutiara  Syaikhina
Wong ngalim iku mesti kepenak, dene ora kepenak mergo ora patek ngalim. Pinter iku kawitane soko moco, mergo wong iku pinter disek lagi iso terampil”.
                                                                                    (KH. Maimoen Zubair)