Artikel
Opini
Tokoh
Cerpen
Humor
Tips
Seni Budaya
Gallery
buletin Al Ibtikar
Prioritas Pendidikan Dalam Islam
oleh: Alawy Assyihab
Eksistensi
suatu peradaban ditentukan oleh kamapanan suatu pendidikan. Bahkan bisa
dibilang pendidikan merupakan aspek pokok yang tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan. Berangkat dari suatu konsep pendidikan yang benar, akan melahirkan
suatu bangsa yang maju.
Ada
suatu qaul yang mengatakan bahwa:
اطلب العلم من المهد اللحد
Dari qaul di atas bisa diidentifikasi, bahwa pendidikan harus sudah
diterima oleh anak semenjak ia masih kecil atau masih dalam asuhan Ibu berlajut
sampai ia dewasa dan meninggal.
Selain itu,
pendidikan anak usia dini menjadi penting. Sebab, dalam rangka membangun
masyarakat yang ideal perlu ada suatu pengawasan terhadap perkembangan anak
semanjak usia dini dan menjaganya agar tidak terpengaruh dengan budaya-budaya
yang buruk. Sejarah pun telah mencatat bagaimana peran generasi muda terhadap
keberhasilan suatu perjuangan.
Hanya saja, muncul
suatu permasalahan dalam system pendidikan yang diterapkan oleh masyarakat.
Mayoritas masyarakat belum memahami prihal adanya skala proritas dalam
pendidikan anak. Kebanyakan para orang tua dan pendidik lebih memprioritaskan
pendidikan dalam dalam sisi duniawi. Bisa jadi ini disebabkan oleh sikap hedonisme
yang muncul sebab globalisasi. Hedonisme sendiri merupakan suatu sikap yang
menganggap bahwa materi adalah pokok dari kebahagiaan. Sehingga mereka tidak
memperdulikan apa yang dia lakukan bisa merugikan orang lain atau tidak.
Padahal selain itu
masih ada pendidikan yang harus lebih diprioritaskan. Salah satunya adalah
pendidikan karakter (budi pekerti). Umar Ahmad Baradja dalam kitab al-akhlak
Lil Banin bercerita:
Suatu hari Ahmad
beserta Bapaknya bertamasya disebuah kebun (taman). Ahmad melihat setangkai
bunga mawar yang indah. Akan tetapi, tangkai bunga tersebut bengkok. Maka Ahmad berkata: betapa indahnya bunga ini.
Tetapi, kenapa wahai bapakku ia bengkok? Bapaknya berkata: karena sesungguhnya
tukang kebun tidak memperhatikan pada pertumbuhannya sejak kecil, maka jadilah
bengkok. Ahmad berkata: alangkah lebih baiknya kita memperbaikinya sekarang.
Bapaknya pun tertawa, kemudian berkata: tidak semudah itu wahai anakku, karena
sesungguhnya ia sudah besar dan batangnya sudah mengeras.
Maka, seperti itulah gambaran seorang anak yang tidak dididik
dengan budi pekerti yang baik sejak masih kecil. Tidak mungkin ia akan berbudi
luhur ketika dewasa nanti. Sungguh begitu penting pendidikan karakter dalam
pertumbuhan seorang anak. Maka tidak salah kalau pendidikan harus mendapat
prioritas utama.
Makna Pendidikan Karakter
Abdullah Nashih
`Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam berpendapat pendidikan
karakter adalah kumpulan dasar-dasar pendidikan budi pekerti serta keutamaan
sikap dan watak yang wajib dimiliki oleh seorang anak dan dijadikan
kebiasaannya semenjak usia tamyis hingga ia menjadi mukallaf (baliq). Hal ini
terus berlanjut secara bertahap hingga sampai pada fase dewasa. Sehingga ia
siap untuk mengarungi lautan kehidupan.
Tidak diragukan
lagi bahwa keluhuran akhlak, tingkah laku dan watak adalah buah dari keimanan
yang tertanam dalam pendidikan agama yang benar. Jika seorang anak kecil tumbuh atas dasar keimanan kepada Allah SWT,
terdidik atas dasar rasa takut kepadanya, merasa selalu mendapat pengawasan
darinya, bergantung kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, dan berserah diri
kepadanya. Maka akan terjaga dalam dirinya kefitrahan. Sebab, kuatnya agama
yang mengakar dalam sanubarinya dan perasaan selalu diawasi oleh Allah SWT
telah tertanam dalam hati. Semua itu akan menjadi suatu filter dalam diri anak
tersebut terhadap sifat-siafat tercela dan mengikuti suatu kebiasaan jahiliyah
yang buruk. Bahkan menerima suatu kebaikan menjadi hal biasa, serta
kecintaannya terhadap suatu hal yang mulia menjadi tujuan utama dalam hidupnya.
Akan tetapi, ketika pendidikan terhadap anak
itu jauh dari tuntunan akidah Islam (keimanan), hanya sekedar arahan agama,
hubungan manusia dan Allah SWT. Tanpa menanamkan suatu akidah yang kuat. Maka
anak tersebut akan tumbuh di atas kefasikan, penyimpangan dan kesesatan. Sebab
ia mungkin akan mudah goyah keimanannya ketika mendapat suatu cobaan dari Allah
SWT. Bahkan hawa nafsu pun mudah untuk menuntunnya untuk berbuat suatu
kejelekan dan mengikuti bisikan-bisikan setan.
Dalam suatu
dijelaskan :
حق الولد على والده
ان يحسن اسمه ويحسن موضعه ويحسن ادبه (رواه البيهقى(
“ Yang
termasuk hak dari seorang anak atas adalah memberi nama yang baik, memberinya
tempat yang baik, dan mengajarinya budi pekerti” (HR. Baihaqi)
Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa para pendidik
terutama orang tua memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak untuk
mengajarinya kebaikan dan prinsip-prinsip kesopanan.
Para pendidik
memiliki tanggung jawab dalam pendidikan anak mulai dari pembentukan akhlak
semenjak mereka kecil, seperti kejujuran, amanah, tolong menolong, menghormati
orang tua dan lain-lain.
Perbuatan Buruk
Abdullah Nashih
`Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad Fil Islam mengutarakan bahwa pendidikan
yang baik menurut pandangan Islam yaitu ketika pendidikan tersebut menitik
beratkan terhadap suatu perhatian dan pengawasan terhadap pertumbuhan Anak.
Maka sudah seharusnya pada orang tua dan pendidik dan siapa pun yang menjadi
pemerihati pendidikan dan akhlak untuk menghindarkan anak pada empat hal yang dibawah
ini sebab merupakan perbuatan yang paling buruk, yaitu:
1.
Suka
Berbohong
2.
Suka
Mencuri
3.
Suka
Mencaci dan Mencela
4.
Kenakalan
dan penyimpangan.
Di antara empat kebisaan buruk di atas, kebiasaan suka
berbohong merupakan akhlak yang paling tercela. Sebab, sifat pembohong termasuk
dalam tanda-tanda orang munafik. Seperti yang dijelaskan dalam suatu hadis:
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال
: آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب
وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان.
“ tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: ketika berkata ia bohong, ketika
berjanji ia ingkar, dan ketika dipercaya ia berkhianat”
Setelah kita melihat dampak yang bisa
ditimbulkan oleh berbohong. Maka tidak ada alasan bagi para pendidik untuk
menjauhkan anak-anak dari sifat pembohong. Meskipun itu sifatnya untuk
kebaikan, seperti menenangkan ketiak menangis, menenangkan suatu perkara
kepadanya, atau menenangkan ketika
marah. Jika para pendidik melakukan hal-hal tersebut, maka sebenarnya
mereka telah membiasakan mereka untuk melakukan hal-hal yang buruk berupa
sebuah kebohongan. Disamping itu, kebohongan akan melemahkan suatu kepercayaan diri dan
melemahkan kepercayaannya di masyarakat.
Setelah kita
mengetahui bagaiman perlunya memahami konsep pendidikan yang diajarkan Islam,
khususnya pendidikan karakter. Sebeb, ketika kita lalai dalam mendidik akhlak
putra-putri kita, maka mereka akan melakukan penyimpangan dan prilaku yang
buruk. Kemudian merekan akan menjadi suatu acaman bagi keamanan dan ketentraman
di tengah masyarakat.
Oleh karena
itu, hendaknya kita selalu menanamkan keimanan yang kuat dalam mendidik anak.
Laksanakanlah kewajiban, kerahkanlah semua kekuatan dan laksanakanlah tanggung
jawab yang dibebankan kepada kita. Manakala kewajiban tersebut terlaksana
dengan baik, maka kita akan melihat anak-anak kita tumbuh menjadi bunga yang
wangi di dalam keluarga, bulan purnama yang bersinar terang di tengah
masyarakat, dan seperti malaikat yang berjalan di muka bumi dengan tenang.
Pentingnya Memahami Ajaran
Islam
oleh: Joko Supriyanto
Ketika
berbicara mengenai pendidikan, maka kita tidak bisa terlepas dari suatu bagian
penting yang ada di dalamnya, yaitu manusia. Manusia adalah makhluk Allah yang
paling sempurna penciptaannya, ia diberi nikmat akal, nafsu, dan agama.
Mengenai agama atau yang biasa dierat kaitkan dengan kepercayaan terhadap Sang
Penguasa (Tuhan), dalam kehidupan manusia, tentunya seluruh manusia juga
mempunyai Tuhan, karena mereka pasti membutuhkanNya. Tuhan atau yang biasa dikenal Allah dalam kalangan kita
sebagai orang Islam, adalah Dzat yang selalu bisa dibuat pegangan ketika
seseorang sedang mengalami keterpurukan, kesedihan dan keputus asaan.
Islam sendiri sebagai agama ia juga memiliki norma-norma
tertentu dan juga mempunyai beberapa sumber ajaran yang bisa dipertangung
jawabkan. Adapun sumber ajaran Islam yaitu : al-Qur'an, al-Hadis, dan Ijtihad Ulama’.
Berbicara masalah agama, tidak terlepas dari kebutuhan
kita sebagai hamba Allah yaitu senantiasa menyerahkan diri dan bertawakal terhadap
kehendak Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Ini menunjukkan bahwa
manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama karena Allah telah menciptakannya sedemikian rupa. Sehingga agama merupakan kebutuhan
hidup manusia itu sendiri.
v
Hakikat dan Fungsi Ajaran Islam
Ketika manusia mengmani adanya Tuhan, maka dia
berusaha untuk bisa
berhubungan denganNya,
sehingga dia berusahamembersihkan hatinya, menyucikan jiwanya. Dia berusaha
membentuk sikap patuh dan taat serta menimbulkan
sikap dan perasaan mengagungkan Tuhan. Karena pada dasarnya, inti ajaran agama Islam adalah “Tauhid” dan seluruh ajarannya mencerminkan ketauhidan serta tidak menyekutukan Allah.
Berbicara masalah agama, tidak terlepas juga dari masalah
kehidupan manusia itu sendiri. Maka dari itu agama juga memiliki fungsi-fungsi
tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli, semisal al-Maraghi, beliau berpendapat, bahwa agama itu bertujuan untuk :
Ø
Mensucikan jiwa dan membebaskan akal dari kepercayaan
sinkritisme terhadap kekuatan ghaib yang dimiliki makhluk dalam menguasai alam
agar makhluk atau selainnya tunduk dan patuh kepadanya.
Ø Memperbaiki
sikap bathin (qalb) atas dasar tujuan yang baik, agar dalam melakukan semua perbuatan dilandasi dengan niat
yang ikhlas untuk Allah dan untuk manusia. (Lihat, al-Maraghi,jilid
I, h. 118)
v
Ciri-Ciri Ajaran Islam
Ajaran
agama Islam memiliki beberapa ciri, di antaranya sebagai
berikut:
- Sesuai dengan fitrah hidup manusia, artinya (1) ajaran agama Islam mengandung petunjuk yang sesuai dengan sifat dasar manusia, baik dari aspek keyakinan, perasaan, maupun pemikiran, (2) sesuai dengan kebutuhan hidup manusia, (3) memberikan manfaat tanpa menimbulkan komplikasi, dan (4) menempatkan manusia dalam posisi yang benar.
فَأَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui, (QS. ar-Rum/30:30).
- Kebenarannya mutlak. Kebenaran itu dapat dipahami karena ajaran Islam berasal dari Allah Yang Maha Benar, dan dapat pula dipahami melalui bukti-bukti materiil, serta bukti riilnya. Karena itu Allah mengingatkan agar manusia tidak meragukan kebenarannya.
الْحَقُّ
مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Kebenaran
itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang
yang ragu. (QS. al-Baqarah/2:147).
- Fleksibel dan ringan, artinya ajaran Islam memperhatikan dan menghargai kondisi masing-masing individu dalam menjalankan aturannya, dan tidak memaksakan orang Islam untuk melakukan suatu perbuatan di luar batas kemampuannya.
لا
يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا
Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. al-Baqarah/2:286).
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa inti
ajaran Islam adalah ketauhidan. Bermula dari ketauhidan itulah kemudian ada
sikap untuk melanjutkan dengan melakukan perintah yang ditetapkan dan menjauhi
yang dilarang. Jika seseorang telah melakukan hal tersebut, maka ia akan dapat
mencapai tujuan dari ajaran Islam, wal hasil ia akan mendapatkan
ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam menjalankan syari’at Islam,
Islam juga tidak mempersulit seseorang, karena ajaran-ajarannya itu mudah dan
menyesuaikan keadaan manusianya dan tidak memaksa. Selain itu ajarannya yang
banyak termuat dalam al-Qur’an dan al-Hadis juga sudah disesuaikan dengan
fithrah manusia dan juga sudah terbukti kebenarannya.
SABAR
Oleh: Joko Supriyanto*
Pengertian Sabar
Sabar menurut bahasa berasal
dari bahasa arab “ṣabara” yang
berarti mencegah atau menahan. Sedangkan menurut istilah, adalah menahan diri
dari sifat kegundahan, rasa emosi, menahan lisan dari keluh kesah, menahan anggota tubuh dari perbuatan yang
melanggar aturan, serta kuat dalam melawan berbagai godaan. Allah Subḥānaḥu wa Ta’ālā memerintahkan kita untuk
bersabar, sebagaimana dalam
firman-Nya :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ
مَعَ الصَّابِرِينَ.
“Hai
orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan ṣalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar.”
( QS. Al-Baqarah : 153).
Sabar, Ciri Orang Beriman
Kesabaran merupakan salah satu
ciri orang beriman. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa kesabaran itu merupakan
sebagian dari wujud iman. Antara sabar dan iman mempunyai hubungan yang tidak
bisa dipisahkan, bagaikan kepala dengan jasadnya. Artinya, tidak ada keimanan yang tidak disertai
kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad hidup yang tanpa memiliki kepala.
Kesabaran seseorang akan menyempurnakan keimanannya, dan kesempurnaan tersebut
telah digambarkan oleh Rasulullah Ṣallā
Allāhu ‘Alayhi wa Sallama dalam hadist berikut ini:
عَنْ سُهَيْبِ رَضِيَ اللَّه عنه قَالَ ، قال رسول للَّه
صلَّى اللَّه عليه وسلَّم " عَجَبًا لِاَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ
كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذاكَ لِاَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ اِنْ اَصَابَتْهُ
سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ اَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ
خَيْرًا لَهُ ".
“Dari Suhayb Raḍiyallāhu
‘Anhu mengatakan : Rasulullah Ṣallā Allāhu ‘Alayhi wa Sallama bersabda: “Sungguh menakjubkan perkaranya
orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang
demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min, yaitu jika ia
mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal
tersebut merupakan hal yang terbaik untuknya. Dan jika
ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tesebut merupaka
hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim).
Rasulullah Ṣallā
Allāhu ‘Alayhi wa Sallama mengambarkan bahwa orang beriman itu memiliki
pesona yang menakjubkan. Pesona tersebut senantiasa memancar jika
seseorang tersebut selalu berprasangka baik (positif thinking). Dia
memandang segala persoalan dari sudut pandang positif, dan bukan dari sudut pandang negatifnya.
Sehingga dengan demikian, apapun yang diberikan Allah kepadanya selalu
disikapinya dengan sabar, arif, dan bijaksana. Contohnya, ketika seseorang
mendapatkan kebaikan, kebahagiaan, kesenangan dan lain sebagainya, ia selalu bersyukur kepada
Allah. Begitu pun saat ia mendapatkan musibah, duka-cita, kesedihan, kemalangan,
dan hal negatif
lainnya, ia akan bisa menyikapinya dengan bersabar. Ia yakin bahwa yang
diberikan Allah kepada makhluk-Nya
tidak akan ada yang
sia-sia, atau
dengan kata lain pasti ada manfaatnya. Ia akan
mengartikan itu semua sebagai wujud kasih sayang Allah kepadanya. Dan memang biasanya Allah menguji kesabaran
hamba-Nya melalui ujian berupa musibah yang diberikan
kepadanya.
Hikmah di
Balik Musibah
Ada banyak
hikmah di balik musibah. Di
antaranya, untuk membedakan siapa yang bertahan dan siapa yang lemah, siapa
yang benar-benar beriman dan siapa yang tidak benar-benar beriman. Orang yang
bertahan dalam menjalani cobaan atau ujian, ia akan keluar sebagai pemenang dan
meraih derajat yang lebih tinggi. Cobaan akan menyeleksi siapa yang terbaik
amal perbuatannya. Allah Subḥanaḥu wa Ta’ālā berfirman:
.الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ
أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“(Dia) Yang menjadikan mati
dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (
QS. Al-Mulk : 2).
Ujian
termasuk hikmah (kebijaksanaan) yang agung dari Allah. Bayangkanlah jika hidup
ini berjalan datar, selalu damai, tenang, dan serba menyenangkan. Tentu manusia
tidak akan pernah mengerti arti hidup, dan tidak memiliki tujuan yang jelas.
Keadaan yang demikian itu justru membuatnya lupa daratan dan mudah lupa dengan
Allah.
Fir’aun,
yang konon katanya tidak pernah sakit dan setiap keinginannya selalu tercapai,
justru akhirnya ia menjadi sombong. Puncak kesombongannya adalah ia
mengikrarkan diri sebagai Tuhan. Akibatnya dia ditenggelamkan
Allah di laut Merah. Oleh karena itu, ketika kita mengalami kemudahan dan merasakan kesenangan terus menerus,
hendaknya lebih berhati-hati. Karena di situlah orang mudah terlena dan lupa
kepada Allah Subḥanaḥu wa Ta’ālā.
Hikmah lain
di balik musibah ialah sebagaimana perkataan ulama’, “Engkau tidak akan
merindukan surga kecuali ketika engkau merasakan pahitnya dunia.” Surga di
sini bisa juga diartikan sebuah
kesuksesan. Jadi, kita tidak akan sampai kepada kesuksesan jika tidak melalui
kepahitan.
Ada sebuah ungkapan, “Seberapa besar penderitaanmu maka sebesar
itulah kebahagiaanmu.” Maka dengan demikian, setiap cobaan yang kita alami jangan
dianggap sebagai penghalang. Tapi jadikan motifasi untuk meraih kesuksesan yang
lebih besar lagi, sehingga bisa membuat kita lebih semangat. Orang yang sering
tertimpa musibah akan menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menjalani hidup ini.
Ia akan menganggap musibah
sebagai suatu anugerah.
Seperti halnya orang ṣufī, mereka justru merindukan ujian dari Allah.
Sebab, mereka khawatir menjadi hamba yang lupa jika Allah tidak
mengujinya.
Oleh karena itu, berbagai
musibah yang mereka alami justru menyebabkan
mereka selalu ingat. Tujuan Allah memberi cobaan adalah untuk mengetahui benar-benar taat atau tidaknya seorang hamba. Selain
itu, musibah juga bisa menjadikan mereka pandai
bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.
Mereka juga ikhlas terhadap semua kehendak-Nya. Dengan begitu, selamanya mereka selalu dekat dengan Allah Subḥanaḥu wa Ta’ālā. Musibah
bagi orang-orang ṣufī adalah berkah. Sedang bagi orang awam, musibah
dianggap sebagai malapetaka.
Diceritakan bahwa Ummu Salamah Raḍiya Allāhu ‘Anhā kehilangan
suaminya yang bernama Abu Salamah karena mati
shahīd dalam perang
Badar. Kita tahu bahwa barang siapa yang mati di perang Badar, maka Allah akan
mengampuni dosa-dosanya. Sebagaimana
sabda Rasulullah: “Jika Allah muncul kepada Ahli Badar maka Dia akan berkata:
“Lakukan
apa yang kalian kehendaki, Aku telah mengampuni kalian.”
Mendengar
suaminya terbunuh, Ummu Salamah mengucapkan Innā lillāhi wa Innā Ilayhi Rāji’ūna.
Kemudian dirangkai dengan doa, “Wahai Allah, berilah aku pahala dalam
musibah ini dan berikanlah yang lebih baik darinya.” Dan benar, Allah
ternyata memberikan kebahagiaan kepada Ummu Salamah setelah ia melalui cobaan itu. Allah benar-benar mengganti Abu Salamah dengan yang lebih baik lagi,
yaitu dinikahinya Ummu Salamah oleh
Rasulullah Ṣallā Allāhu ‘Alayhi wa
Sallama.
Cara Menyikapi Musibah
Hendaknya kita bersikap tegar
dalam menghadapi segala musibah.
Jangan berkeluh kesah kepada manusia, karena hal itu menandakan jiwa kita
rapuh. Boleh memberitahukan apa
yang kita alami kepada orang lain, tetapi bukan dengan berkeluh kesah. Seperti
orang sakit mengadukan keadaannya kepada dokter, maka hal ini boleh. Atau saat
ditimpa musibah berat, kemudian mengumpulkan sanak keluarganya untuk musyawarah bagaimana jalan keluar dalam menghadapi musibah
itu.
Berkeluh
kesah kepada Allah juga merupakan sikap yang tidak sabar. Namun jika berdoa, “Ya
Allah berilah aku pahala dari musibahku, dan berilah yang terbaik bagiku.” Maka
hal itu merupakan sikap ikhlas dalam menerima musibah. Wallāhu A’lam.
*Mahasiswa
Semester III STAI AL-ANWAR.
Mutiara Syaikhina
“Wong
ngalim iku mesti kepenak, dene ora kepenak mergo ora patek ngalim. Pinter iku
kawitane soko moco, mergo wong
iku pinter disek lagi iso terampil”.
(KH.
Maimoen Zubair)
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Tolong Menolong dalam Islam Oleh: Siti Afiah Tolong menolong dalam bahasa A rab nya adalah ta’awun. Sedangkan menurut istilah, p...
-
Gus Bahak, Ulama Yang Enggan Dikenal Sewaktu menyantri di daerah Sarang, saya jadi tidak asing lagi mendengar nama Gus Bahak, orang...
-
Kekuatan Prasangka Oleh : M. Akrom Adabi Apa Itu Prasangka ? Prasangka merupakan sebuah dugaan yang terbesit dalam benak seorang ...

Recent Comment