Artikel
Opini
Tokoh
Cerpen
Humor
Tips
Seni Budaya
Gallery
biografi
Lukisan Napoleon
Oleh : Laila
Azzahra
Ousmane Schelka, seorang pelukis di Marseilles, amat kagum kepada
Napoleon Bonaparte. Jika tidak sedang membuat pesanan lukisan, ia dengan senang
hati akan menggoreskan kuasnya pada kanvas dan menggambar Napoleon untuk
memenuhi kepuasan batinnya sendiri. Tidak hanya itu, ia juga akan menulis sajak
tentang Napoleon dan membacanya di Balkon.
Ousmane Schelka adalah seorang muslim. Ayahnya orang Maroko sedang
ibunya orang prancis asli. Istrinya sudah meninggal dan meninggalkan seorang
anak laki-laki yang amat disayanginya. Anak laki-lakinya itu bernama Naceri
Schelka. Naceri saaat ini masih duduk di bangku sekolah dasar. Tampaknya ia
mewarisi bakat ayahya. Terbukti lukisan-lukisan yang dibuat olehnya sudah
nampak indah dan menawan.
Suatu hari Ousamen mendapat rezeki yang luar biasabanyak, sehingga
ia dapat membelisalah satu bangunan di pusat kota yang rencananya akan di pakai
sebagai galeri. Ousmane berpikir akan membuat pameran di galeri tersebut. Namun
tidak seperti biasanya, ia ingin membuat lukisan langsung di tembok, tidak di
kavas. Maka, ia lukis tembok-tembok tersebut sesuai dengan bayangan dan
imajinya.
Semua tembok telah hampir ia lukis, kecuali dua sisi yang masih
kosong. Ia berencana mendedikasikan sisi gtersebut untuk Napoleon, sang pemimpin
pujaan. Belum juga ia menggambar ke dua sisi tersebut, Naceri meminta kepadanya
untuk di beri kesempatan melukis di salah satu tembok. Akhirnya Ousmane berbagi
tembok dengan anaknya.
Seminggu kemudian, lukisan mereka selesai. Hampir bebarengan, hanya
terpaut sekitar satu jam. Ousmane kemudian mengamati lukisan yang telah
dibuatnya. Ia benar-benar mengagumi hasil karyanya. Napoleon di lukisan Ousmane
tempak sangat berwibawa. Ia tempak lebih agung dan tampan. Ousmane lalu beralih
ke sisi tembok sebelah, ia ingin melihat hasil karya dari putra tercintanya.
Ternyata apa yang di lukis Naceri? Naceri ternyata melukis
kaligrafi bertuliskan Allah dalam khat kufi yang luar biasa indah dan megah.
Proporsi warna yang digunakannya tampak sangat mencengangkan mata. Garis-garis
yang ditorehkannya tampak seddikit tegas namun terkesan lembut dan
menghangatkan. Melihat lukisan sang anak Ousmane berdecak kagum. Namun, ia
kurang suka lukisan itu terpampang di galerinya. Apa kata orang-orang nanti
jika ada mengetahui kaligrafi Allah di galerinya? Ia mungkin akan di cap
sebagai seorang pelukis fundamentalis atau mungkin seniman religius. Hal ini
mungkin akan membuat penghasilannya turun atau mungkin ia kan dijauhi oleh
kolega-koleganya.
Ousmane kemudian meminta Naceri utnuk menghapus atau mengganti
kaligrafi tersebut, namun sang putra menolak. Naceri berkata, “ Ayah tidak
adil. Ayah dengan bebasnya melukis sang raja Napoleon tapi kenapa aku tidak
boleh melukis nama Sang Raja Semesta? Ayah tidak takut orang-orang meninggalkan
ayah karena melukis Napoleon, tapi kenapa ayah takut akan ditinggalkan oleh
para kolega karena kaligrafi ini? Ayah juga takut kehilangan masa depan atau
uang ayah karena kaligrafi ini. Ayah tidak adil!! Padahal ayah tahu belaka,
bahwa Napoleon, seberapa hebatpun dia, dia tidak akan dapat menanggung atau
menolong ayah. Dia pasti punya kelemahan. Coba bandingkan dengan Allah. Ia
pasti dapat menanggung ayah, bukan hanya di dunia, bahkan sampai tembus ke
akhirat. Ia tidak mempunyai kelemahan. Apakah jika ayah menjaga asma Allah akan
menjadi rugi karenanya?.
Mendengar uraian sang anak yang begitu bersemangat Ousname terdiam.
Tak ia sangka anaknya akan berkata demikian. Begitu dalam dan luar biasanya
ucapan itu sehingga sampai membuat semua bulu kuduknya merinding. Ia takjub. Ia
jatuh dan meleleh. Perlahan tapi pasti, dengan tanpa di sadarinya, tubuhnya
melorot dan bersujud begitu saja di ubin galeri. Allahu Akbar!!
Pesan
Sering
kita memuliakan pemimpin atau orang yang kita hormati sampai tahapan yang sangat
tinggi. Sesungguhnya, Tuhanlah yang harus kita letakkan di tempat tertinggi
untuk tiap bentuk penghormatan.
###
Gus Bahak,
Ulama Yang Enggan Dikenal
Sewaktu
menyantri di daerah Sarang, saya jadi tidak asing lagi mendengar nama Gus Bahak,
orang alim yang sering dibicarakan teman-teman saya itu baru hanya bisa saya
kenal lebih dekat lewat ceramah-ceramah beliau yang banyak di dokumentasikan
lewat bentuk audio MP3, gaya bicaranya yang khas, ceplas ceplos tapi ilmiah,
maksud saya sangat ilmiah. Membuat saya dan mungkin seluruh pendengar merasa
ingin terus mendengarkan dengan seksama. Bahasa hiperbolanya “ bagaimana bisa
ada orang se-alim itu “. Atau seperti pujian Prof. Dr. Quraisy Syihab “sulit
ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Quran hingga
detail-detail Fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat al Qur'an seperti pak
Baha'...".
Ulama
karismatik yang enggan disorot media ini berasal dari Narukan, sebuah desa yang
berada di kecamatan Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Meskipun enggan
dipublikasikan, ke-Aliman beliau tetap
membuat beliau banyak dikenal Masyarakat, bahkan di kalangan intelektual.
Semenjak
kecil beliau mendapat didikan langsung dari ayahnya, KH. Nur Salim. terutama
dalam membaca Al-Quran, KH. Nur Salim ini ternyata adalah murid KH. Arwani
Kudus. Tak heran jika ayah beliau sangat ketat dalam tajwid Al-Quran, Memang,
karakteristik bacaan dari murid-murid mbah Arwani mengetrapkan ketetatan dalam
tajwid dan makhorijul huruf. Gus Bahak ini sudah menghatamkan Al-Quran bahkan
sejak umur beliau masih sangat belia. Disertai dengan bacaan tajwid yang ketat
Dalam masa
selanjutnya, KH. Nur Salim menitipkan beliau ke pondok pesantren Al-Anwar
Sarang, Rembang yang diasuh oleh KH. Maimoen Zubair. Siapa sangka minat belajar
beliau di pesantren ini sangat besar, dan dengan antusiasme yang tinggi ini
beliau menguasai banyak fan ilmu. Sampai-sampai ketika akan ikut kegiatan
musyawarah di pesantren tersebut, beliau serta merta ditolak oleh
teman-temannya, karena dianggap sudah tidak berada di level mereka, bahkan
jauh.
Shohih
Bukhori pun beliau khatamkan di sini, lengkap dengan sanad dan matannya. Sebuah
prestasi yang sulit ditandingi oleh santri lain. Selain hafalan-hafalan wajib
beliau juga menghatamkan Fathul Muin, hal ini menjadikan beliau seorang santri
dengan hafalan terbanyak di era beliau.
Prestasi ini
membuat beliau menjadi seorang santri yang sangat disayangi oleh KH. Maimoen
Zubair, dalam berbagai keperluan Gus Bahak juga sering diberi kesempatan oleh
Mbah Mun untuk menemani beliau, baik dalam masalah ringan seperti
berbincang-bincang santai sampai urusan mencari dalil hukum, Gus Bahak memang
ahlinya dalam masalah ini, bahkan sangat cepat dalam mencari ta’bir suatu
permasalahan.. Mbah Mun pun kerap mamuji Gus Bahak “ Iyo Ha’, koe pancen ‘alim “.
Selain itu
Mbah Mun juga kerap menjadikan Gus Bahak sebagai contoh santri teladan, Gus
Bahak merupakan santri ideal yang kerap dipuji Pengasuh pondok pesantren
Al-Anwar ini “ Santri Tenan iku yo koyo Bahak iku “ terang Mbah Mun kepada
santri-santri lain di sela-sela Mauidzohnya.
Pada suatu
kesempatan KH. Nur Salim, ayah Gus Bahak sempat menawari beliau untuk
melanjutkan studi ke Yaman, namun beliau lebih memilih menetap di Sarang, dan
berkhidmat di Madrasah Ghozaliyah Syafiiyah. Dan juga mengajar di pesantren
beliau sendiri LP3IA.
Gus Bahak
memang hanya mengenyam pendidikan di dua pesantren berbeda, yakni pesantren
ayahnya sendiri di desa Narukan dan di Pondoknya KH. Maimoen Zubair, Al-Anwar
Sarang. Meski begitu, kedalaman ilmu beliau sungguh sangat luas.
Setelah
bertahun-tahun menyantri akhirnya beliau dipilihkan seorang calon istri oleh
paman beliau, ia adalah putri dari salah seorang pengasuh pesantren di
Sidogiri, atau dalam budaya pesantren biasa di panggil Neng.
Kesederhanaan
hidup yang diajarkan ayah beliau sudah sangat melekat dalam keseharian beliau,
sehingga seusai lamaran pun beliau langsung mengutarakan kepada mertuanya bahwa
kehidupan glamour bukanlah model kehidupan beliau, melainkan kesederhanaan
hidup. Dan kembali beliau mayakinkan mertuanya, untuk berfikir ulang tentang
menjadikan Gus Bahak sebagai menantu, agar tidak ada penyesalan di kemudian
hari. Hal ini juga terbukti kemudian hari kala beliau hendak melangsungkan akad
nikah di kediaman mertua beliau. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan
menaikibis regular kelas ekonomi, dari Pandangan, Sarang sampai ke tempat akad
nikah, yakni Pasuruan. Namun entah disangka mertuanya justru menimpali “ Klop
“, yang menandakan bahwa apa yang ia fikirkan searah dengan apa yang diutarakan
calon mantunya itu.
Gaya hidup
sederhana ini memang telah diajarkan oleh ayah beliau, KH Nur Salim. Memang
sudah menjadi tradisi dalam silsilah keluarga beliau unutk hidup dalam
kesederhanaan, bahkan ayah beliau sempat berwasiat agar beliau jangan sampai
berkeinginan untuk menjadi manusia mulya dari pandangan makhluk, hal ini bukan
lantaran kelauarga beliau adalah keluarga yang kurang mampu atau tidak
berkecukupan, bahkan kakek beliau merupakan juragan tanah, bisa dibayangkan
pada zaman itu, bagaimana juragan tanah menjadi orang terhormat dan kaya
daripada kalangan lain. Menurut beliau, kesederhanaan ini juga merupakan
karakter keluarga Quran yang telah dipegang erat sejak zaman leluhurnya.
Semenjak
tahun 2003 beliau mulai menetap di daerah Jogja, dan disana beliau menyewa
rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, memulai hidup baru dengan lebih
mandiri, dan tetap sederhana.
Namun
kepindahan beliau ke Jogja membuat para santri-santri beliau seakan kehilangan
induknya, sehingga sebagian dari mereka memilih untuk menyusul beliau ke Jogja
dan kemudian menyewa rumah yang letaknya tidak jauh dari kediaman beliau. Hal
ini mereka lakukan lantaran masih sangat ingin menimba ilmu dan ngaji kepada
Gus Bahak.
Kealiman
beliau membuat beliau dikenal masyarakat sekitar dan lama-kelamaan banyak pula
masyarakat yang juga ikut ngaji. Sampai pada tahun 2005, sebuah ujian datang.
Ayah beliau KH Nur Salim jatuh sakit, semenjak saat itu beliau pulang, diikuti
pula oleh ke empat saudaranya, beberapa
bulan kemudian ayah beliau meninggal dunia.
Karena
diberi amanah untuk meneruskan estafet kepengasuhan di LP3IA, maka Gus Bahak
tidak bisa kembali menetap di Jogja agar dapat memenuhi amanah yang diembankan
oleh ayahnya ini. Hingga akhrinya beliau hanya sempat mengajar kembali di sana
namun hanya satu bulan sekali.
Selain aktif
mengajar, Gus Bahak Juga mengabdikan diri di Lembaga Tafsir Al-Quran
Universitas Islam Indinesia ( UII ) Yogyakarta. Dalam tim pengkaji Al-Quran ini
beliau menjadi ketua Tim Lajnah Mushaf UII bersama para tim lain yang
kebanyakan adalah kalangan akademis, baik para Doktor, Profesor dan para
akademisi lain seperti Prof.Dr.Quraisy Syihab, Prof.Zaini Dahlan, Prof.Shohib,
dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yg lain.
Pernah pada
suatu ketika beliau hendak diberi gelar Doktor Honoris Causa dari Uii, namun
beliau tidak berkenan. Dan hal ini tetap menjadikan beliau satu-satunya anggota
dewan tafsir yang berlatar belakang pesantren murni, tanpa pendidikan formal
dan tanpa gelar akademis.
Hingga
sekarang beliau juga aktif mengajar di berbagai lembaga pendidikan, salah
satunya sekolah tinggi Al-Anwar, sebuah kampus yang didirikan oleh KH. Maimoen
Zubair untuk emnampung santri akademis, dan menampung mahasiswa yang mampu
membaca kitab.
Jadi inilaha
Gus Bahak, sosok ulama dengan kesederhanaan. Ahli fiqh, ahli tafsir, ahli
hadits dan ahli dalam fan-fan lain.
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Tolong Menolong dalam Islam Oleh: Siti Afiah Tolong menolong dalam bahasa A rab nya adalah ta’awun. Sedangkan menurut istilah, p...
-
Gus Bahak, Ulama Yang Enggan Dikenal Sewaktu menyantri di daerah Sarang, saya jadi tidak asing lagi mendengar nama Gus Bahak, orang...
-
Kekuatan Prasangka Oleh : M. Akrom Adabi Apa Itu Prasangka ? Prasangka merupakan sebuah dugaan yang terbesit dalam benak seorang ...


Recent Comment