Artikel
Opini
Tokoh
Cerpen
Humor
Tips
Seni Budaya
Gallery
LPM Garda Pena
FAKTA-FAKTA YUNIKs
By : Siti Mudrikatur Rahmah
|
S
|
ejak kecil, gadis-gadis di Cina sudah melakukan pemotongan kaki
yang sangat mengerikan. Hal ini dilakukan agar kakinya bisa kecil sehingga muat
di sepatu kecil khas Cina. Dan menurut mitos atau pendapat mereka, para
penduduk cina, semakin kecil ukuran sepatunya, semakin cantiklah dia.... Hmm ngeri.
Leonardo Da Vinci, sang misterius super genius, membutuhkan waktu sepuluh tahun (10
th)baginya untuk menyelesaikan lukisan “MONALISA”. Tahukah kalian, jika
biasanya para pelukis menandai lukisan mereka dengan menyantumkan tanggal
berapa mereka membuat lukisannya. Tetapi, lain halnya dengan sang Da Vinci, dia
tidak menandainya dengan tanggal ataupun lainnya. Yang paling AMAZING
dari lukisan tersebut ialah, Leonardo Da Vinci dan Monalisa (lukisannya)
mempunyai susunan tulang yang sama dan ketika ditinjau lebih lanjut dengan
menggunakan sinar X, maka ada 3 versi lukisan di bawah lukisan lukisan
tersebut. Woww,,, :O
Tahukah kalian jika Ikan Hiu, akan kehilangan gigi lebih
dari 6000 buah setiap tahunnya. Tetapi kabar baiknya adalah, disetiap tahunnya
gigi baru mereka akan tumbuh dalam waktu 24 JAM... ckcckc ^^
Untuk setiap patung memorial “Orang di Atas Kuda” itu
mempunyai beberapa arti antara lainnya, jika dua kaki kuda yang depan
terangkat, maka orang tersebut mati dalam pertempuran. Jika hanya satu kaki
yang terangkat, maka orang tersebut meninggal karena dia mendapatkan luka saat
melakukan pertempuran. Jika empat kakinya (semua/ all) menginjakkan
tanah, maka orang tersebut meninggal secara normal (huft,, lega..). So...kalau
yang terangkat semua kakinya (keempatnya) atau hanya tiga yang terangkat,,, apa
coba yang terjadi,,,,,??%%
Sambaran kilat berlangsung sangatlah cepat, kira-kira hanya selama 0,2 detik. Dan
sambaran ini diikuti juga oleh sambaran lainnya dalam jalur yang sama. Yang
lebih menghebohkannya lagi ialah,, Sambaran yang tejadi dapat menyalakan Seratus
Juta Bola Lampu dalam sesaat, namun hanya sambaran utamalah yang mengenai
target.....
Memakai Handphone selama satu jam dapat mengembangbiakkan bakteri dalam telinga 700
kali lebih cepat. Hahaha,,, ni bagi yang sering telfonan nih,, Hati-Hati
Bro...ckckck^^
Muharrom, Bulan Kemuliaan & Kebahagian
Oleh : M. Fitry
Oleh : M. Fitry
|
|
Dalam
kalender Islam, pergantian bulan Dzul-hijjah menuju Muharrom menjadi momen yang
begitu spesial bagi umat Islam di penjuru dunia. Kalau mereka yang melaksanakan
ibadah haji, bulan Dzul-hijjah dimaknai sebagai bulan dimana mereka menjadi
seorang muslim sejati, karena telah memenuhi semua lima rukun Islam. Bagi
mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, bulan Dzulhijjah dimaknai sebagai
bulan lambang kejayaan Islam, karena dalam bulan tersebut seluruh umat Islam
dari berbagai status, secara bersama-sama menyembelih hewan qurban dan
menikmati dagingnya setelah prosesi hari raya ‘Idul Adha yang dirayakan pada
tanggal 10 Dzul-hijjah.
Tidak
cukup sampai disini, kebahagian mereka kian bertambah seiring datangnya bulan
Muharrom yang sekaligus menjadi simbol tahun baru Hijriyyah. Pada bulan ini
umat Islam kian bahagia bukan karena terjadi pergantian tahun semata, tetapi
lebih pada hal istimewa yang terkandung di dalam bulan tersebut. pasalnya
bulan Muharrom adalah bulan yang paling
utama untuk berpuasa setelah bulan ramadlan. Ia merupakan bulan Allah SWT dan
paling bulan paling utama dari bulan-bulan lain yang dimuliakan, seperti
Dzul-qo’dah, Dzul-hijjah, dan Rojab.
Dalam menyambut bulan Muharrom ini, umat Islam sangat dianjurkan
melakukan ibadah-ibadah sunnah yang mempunyai pahala besar, seperti membaca doa
akhir tahun pada hari terakhir bulan Dzul-hijjah dan doa awal tahun pada hari
pertama bulan Muharrom. Agar kejadian baik yang terjadi pada setahun terakhir
bisa terulang lagi dan menjadi lebih baik pada tahun berikutnya, begitu juga
sebaliknya. Selain itu, disunnahkan juga membaca doa-doa selama 10 hari pertama
dan berpuasa pada tanggal 9 yang disebut
dengan puasa Tasua’, dan tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyura’.
Keutamaan puasa Tasua’ sangat besar, karena dalam suatu
riwayat hadits dijelaskan bahwa Rasulullah SAW akan terus berpuasa Tasua’ pada
tahun berikutnya jika beliau masih hidup, namun yang terjadi, beliau wafat
terlebih dahulu. Sementara
keutamaan puasa Asyura’ adalah dapat mengahapus dosa-dosa setahun yang lalu.
Jika kita rutin melakukannya setiap tahun, maka kita akan mendapatkan
keuntungan yang besar karena dalam setahun dosa-dosa kita dihapus dan mendapat
ampunan. Di samping itu, tanggal 10 Muharrom menyimpan banyak peristiwa penting
dan luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi Allah SWT. Pada tanggal tersebut
Allah menerima taubatnya nabi Adam AS sehingga ia menjadi bersih tidak berdosa,
memasukkan nabi Idris ke surga, mengeluarkan nabi Nuh dari perahunya (setelah habisnya
banjir besar), menyelematkan nabi Ibrohim dari kobaran api sehingga ia tidak
terbakar, menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa, membebaskan nabi Yusuf dari
penjara, mengembalikan penglihatan nabi Ya’qub, menghilangkan cobaan nabi
Ayyub, mengeluarkan nabi Yunus dari perut hut (ikan paus), mengampuni nabi Daud
dari dosanya, menganugerahkan kerajaan besar kepada nabi Sulaiman, dan pada
tanggal itu pula Allah memberikan ampunan kepada nabi Muhammad SAW dari
dosa-dosa beliau yang telah berlalu dan yang akan datang, serta masih banyak
lagi kejadian lain yang menunjukkan akan keistimewaan tangaal 10 Muharrom ini.
Namun
sayang, melihat berbagai fakta realita yang terekam beberapa tahun belakangan
ini, wajah kesenangan dan kebahagiaan menyambut bulan Muharrom mulai kusam dan
memudar. Mereka lebih tertarik untuk menyambut datangnya awal tahun baru Masehi
yang notebanenya bukan kalender umat Islam. Mereka cenderung meniru orang-orang
non muslim dalam hal gaya, budaya, dan lainnya, sehingga setiap pergantian tahun
baru Masehi mereka pergi ke alun-alun kota dan memegang terompet yang ditiup
pada jam dua belas malam. Masih banyak lagi warna-warni model kejadian semacam
di atas. Padahal disadari atau tidak, tindakan seperti itu, di samping
membuang-buang harta benda, juga dapat melemahkan Islam dari dalam secara
perlahan-lahan. Sehingga kebiasaan baik para pendahulu kita dan para ulama’
salaf dalam memelihara dan melestarikan ajaran islam yang mulia akan mengalami
penurunan sedikit demi sedikit. Oleh karena itu sebelum semua terlambat dan
masih adanya waktu dan kesempatan, mari kita sebagai umat Islam bersama-sama
terus memelihara dan melestarikan ajaran islam yang murni, yang berlandaskan
ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan seperti itu ajaran Islam akan terus terjaga
hingga masanya nanti dan semoga Allah selalu merahmati kita untuk terus berada pada jalan yang diridlai-Nya, amin.
Pemimpin di Negara Indonesia
Oleh : M. Ali Ridlo
Tepat pada tanggal 22
Oktober 2014, negara Indonesia resmi memiliki pemimpin baru. Pemimpin yang
diharapkan mampu melestarikan hal-hal yang sudah baik dan memperbaiki sesuatu yang masih
kurang baik. Jauh hari sebelum dilantiknya bapak Jokowi sebagai orang
terpandang dinegara Indonesia, Pro kontra selalu menghiasi seluruh media. Baik
hujatan ataupun sanjungan selalu menghiasi ranah public setiap waktunya. Sehubungan
sudah resminya bapak Jokowi menjadi pemimpin Negara, alangkah baiknya bagi
warga Indonesia tahu akan sikap kita terhadap seorang pemimpin, sikap yang
tidak keluar dari jalur al-Qur'an dan al-Sunnah. bukan lagi menghujat yang menang
karena sang idola kalah.
Ø Makna Pemimpin
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pemimpin berarti orang yang
ditunjuk sebagai ketua dalam sebuah organisasi. Dalam agama islam pemimpin
diistilahkan dengan khalifah yang berarti pengganti. Atau dapat pula dimaknai orang yang bertugas menegakkan syariat Allah SWT, memimpin
kaum muslimin untuk menyempurnakan penyebaran syariat Islam dan memberlakukan
kepada seluruh kaum muslimin secara wajib, sebagai pengganti kepemimpinan
Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam.
Dalam hal ini seorang pakar agama dari mesir ikut andil dalam
mengartikan makna pemimpin. Dia adalah abuya, menurut beliau pemimpin adalah
orang yang sangat berwibawa dan berupaya membawa manusia kepada Allah, punya
ilmu untuk menunjuk ajar manusia dengan syariat Tuhan, mampu mendidik hati
manusia ke arah iman dan taqwa, mampu menjinakkan nafsu manusia sebagaimana dia
menundukkan nafsu dirinya.
Ø Ambisius Dalam Sebuah Kepimimpinan
Setelah Nabi wafat kepimpinan Islam digantikan oleh Abu Bakar,
kemudian Umar bin al-Khotob. Pada masa itu keadaan Islam masih tergolong stabil,
karena model kepimimpinannya tidak berbeda jauh dengan masa Nabi. Namun
demikian setelah itu, dengan bertambahnya usia bumi, nilai kepimpinan seakan
bukan lagi sebuah amanah yang berat, (seperti yang dirsakan oleh Khulafau
al-Rosyidin ) malahan menjadi fenomena dimana orang ingin menjadi sorotan
public dan menjadi ajang rebutan.
Hingga saat ini kedudukan sebagai pemimpin menjadi rebutan
diberbagi kalangan. Mereka sanggup berkorban waktu tenaga dan uang yang banyak
untuk menjadi pernimpin negara, perusahaan atau organisasi. Kadang-kadang
menggunakan berbagai cara yang menyinggung dan menyakitkan hati orang lain.
Terlebih ada yang sanggup mengorbankan yawa pendukung guna tercapainya sebuah
tujuan yaitu menjadi seorang pemimpin. Yang demikian itu karena salah pahamnya
mereka terhadap arti kepimimpinan.
Ø Hormat Terhadap Pemimpin
Lembaga dimanapun pasti tidak akan pernah terlepas dari seorang
pemimpin. Dialah yang menjadi nahkoda untuk perjalanan lembaga tersebut.
Orang-orang yang berada pada naungannya wajib untuk mentaati segala
perintahnya. Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada
pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun,
untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh ‘ta’atilah’ karena
ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (tābi’) dari
ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam. Oleh
karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada
Allah, maka tidak ada lagi kewajiban dengar dan ta’at.
Mengenai
makna Ūlil amri sendiri para
ulama berselisih pendapat, menurut Abu Hurairoh yang dinukil oleh Ibnu Jarir
al-Thobari dalam kitab tafsirnya, mereka adalah pemimpin atau pemerintahan. Penafsiran serupa juga diriwayatkan
dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah berkata
bahwa mereka adalah para ulama dan pemilik kebaikan. Mujahid, Atha’, al-Hasan,
dan Abul Aliyah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para ulama. Mujahid juga
mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah para sahabat. Pendapat yang dikuatkan
oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu maksud ulil amri adalah
para pemimpin/pemerintah.[1]
Ø Hukum NKRI
Negara kesatuan Rebublik Indonesia (
NKRI ) walaupun jumlah penduduknya mayoritas beragama islam akan tetapi hukum
yang ditegakan tidaklah sama dengan syariat yang dibawa oleh Nabi. Hukum
pencurian misalnya, secara syariat islam seorang pencuri akan dipotong tangan
nya apabila barang yang dicuri sudah melampaui batas. Sedangkan dalam NKRI baik
mencuri barang dengan nominal yang rendah ataupun tinggi semua terkena hukum
perdata untuk dipenjarakan.
Mengenai hal yang demikian,
kewajiban taat kepada pemerintah yang berlandasan hukum yang tidak sesuai
dengan al-Qur'an dan Al-Sunnah tetap wajib. Selama memang tidak tercium oksigen
kemaksiatan. Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam bersabda,
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka
bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan
maksiat).” Indikasi sabda nabi lebih tertuju pada kepatuhan tidak berlaku
untuk hal-hal yang ada maksiatnya, tanpa mengindikasikan siapa yang dipatuhi
dan bentuk apa yang dipatuhi, selama itu tidak maksiat maka wajib mentaatinya.
Perpecahan bukanlah solusi bagi terselesaikanya suatu masalah, oleh
karena itu pengujatan yang sudah berlalu saatnya dihapus dan digantikan dengan
bentuk tunduk dan patuh atas segala keputusan pemimpin. sebab yang demikian itu
juga termasuk bentuk realisasi taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah
bersabda :
من اطاعني فقد اطاع الله ومن عصاني فقد عصي الله ومن اطاع اميري فقد
اطاعني ومن عصي اميري فقد عصاني
“ Barang siapa
yang menaatiku maka sungguh ia sudah taat kepada Allah, barang siapa yang
mendurhakaiku maka sungguh ia telah mendurhakai Allah, dan barang siapa yang
menaati pemimpinku sungguh dia sudah menaatiku, dan barang siapa yang
mendurhakai pemimpinku, maka sungguh ia telah mendurhakaiku.”
Wallahu A’lam
bi al- Ṣowab.
Patuh Agama atau Negara, Sama Saja
Alawy Assyihab
Disamping memimpin Agama, seorang Khafilah dalam Islam
harusl
ah bisa memimpin politik. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah Ṣalla
Allah ‘Alayhi wa Sallam pada saat di Madinah, yang mana pada saat itu umat
Islam telah mampu berdiri sendiri dan memiliki independensi yang sangat kuat.
Pada saat itu, Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam tampil tidak
hanya sebagai pemimpin Agama akan tetapi juga sebagai pemimpin politik, dan tak
heran jika kesenjangan yang terjadi pada masa itu sangat sempit. Akan tetapi,
syarat tersebut menjadi terasa rumit dan
mustahil dalam kepemimpinan negara Islam dewasa ini.
Ibnu Khaldun dalam mendefinisikan
Khalifah dengan tegas mengawinkan agama dan politik Sebagai warisan Nabi
Muhammad Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam. Pernyataannya:
“Khalifah sejatinya adalah penganti pembawa syara’ (Sahib
asy-syara’) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengannya (dengan agama).
Sikap Umat Kepada Pemimpin
Setelah kita mengulas bagaimana seseorang pemimpin bersikap. Kita
juga tidak bisa menafikan sikap umat kepada pemimpin. Dalam al-Qur’an
disebutkan:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri
diantara kamu.” (QS. an-Nisa [4]: 59)
Imam Bukhari meriwayatan dari Ibnu Abbas Radiya Allāhu ‘Anhu bahwa ayat ini turun berkaitan dengan
Abdullah bin Hudâfah yang diutus Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam untuk
memimpin angkatan perang. Hal ini menunjukan bahwa yang dimaksud dengan “ulil
amri” adalah pimpinan pemerintah.
Makdsud ayat di
atas adalah, kita sebagai seseorang yang beriman haruslah taat kepada Allah,
Rasulnya dan ulil amri (penguasa pemerintah). Akan tetapi taat kepada
Allah dan Rasulnya adalah prioritas utama. Jika ulil amri menyimpang dari
perintah-perintah Allah dan Rasulnya. Maka ketaatan kepada Allah dan Rasulnya
lebih di utamakan.
Banyak hadis pula
yang mengharuskan kaum muslim menataati para pemimpin, diantarana adalah sabda
Rasullulah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam :
من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد
عصى الله، ومن أطاع الأمير فقد أطاعني ومن عصى الأمير فقد عصاني
“barangsiapa yang taat kepadaku,
maka dia telah taat kepada Allah. Dan
barangsiapa yang durhaka kepadaku
berarti dia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang taat kepada amir
(pemimpin), maka dia telah mentaatiku.
Dan barang siapa yang durhaka kepada amir (pemimpin), maka dia durhaka kepadaku”. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam hadis
ini adanya suatu penyamaan ketaatan kepada pemimpin sama dengan ketaatan kepada Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam dan
kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā .
Dualisme Kepemimpinan
Dalam literatur sejarah, kita
mengetahui bahwa Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam berhasil
menyatukan umat islam dalam entetitas politik Rasulullah sebagai pemimpinya.
Yang mana pada saat itu umat islam hanya memiliki satu negara yang menaungi
seluruh umat islam. Kesatuan ini berlanjut pada era kekhalifahan kecuali pada
era khalifah ‘Ali bin Abi Thalib Radiya Allāhu ‘Anhu yang mendapat
persaigan dari Muawiyah bin Abi Sufyan, begitu pula ketika era Muawiyah dan
penerusnya, Yazid. Sejumlah pesaing kekhalifahan muncul. seperti Hasan bin ‘Ali
dan Husain bin ‘Ali dan Abdullah bin Zubair. Meski demikian, masing-masing
tokoh merasa paling berhak atas kekhalifahannya, sekalipun dalam realitanya
terjadi dualisme kepemimpinan. Namun masing-masing tetap mengidealkan kesatuan
kepemimpinan serta mengupayakannya.
Lain halnya dengan kasus dualisme
pada masa modern ini yang lebih mementingkan kepentingan individu maupun kelompok,
dan tanpa adanya suatu upaya untuk mengidealkan kesatuan kepemimpinan. Jumhur
(mayoritas) ulama’ menegaskan larangan dualisme kepemimpinan dalam tubuh umat
islam. Sejumlah dalil diutarakan untuk menguatkan pendapat ini. seperti halnya
hadis Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam :
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا
الآخَرَ مِنْهُمَا
“ jika ada pembaiatan terhadap
dua Khalifah, maka bunuhlan yang terakhir diantara mereka” (HR. Muslim)
Dan ada juga
hadis lain, yaitu:
مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ
يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ
فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ
“ barangsiapa yang telah berbaiat
kepada seorang imam, lalu dia memberikan kapadanya tepukan tangan dan buah
hatinya, maka hendaklah dia menaatinya selama mampu. Kemudian jika ada orang
lain datang untuk merebutnya maka tebaslah leher yang lain itu.” (HR.Muslim)
Atas dasar kedua hadis inilah tidak
diperbolehkan adanya dualisme kepemimpinan dalam suatu negara atau
lembaga. Khalifah (pemimpinan) yang dianggap
sah adalah yang pertama, dan dianjurkan untuk memerangi atau membunuh golongan
yang membuat tandingan dengan mengangkat pemimpin lain di atas kepemimpinan
yang pertama. Golongan yang demikian tidak membuat suatu kemajuan dalam suatu
negara maupun lembaga, justru hanya akan membuat suatu kehancuran.
Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa
Sallam mengecam seseorang yang memisahkan diri dari pemerintahan yang sah dengan
bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ
فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“barangsiapa yang menyaksikan
dari amir (pemimpin)nya sesuatu, kemudian dia membencinya, maka hendaklah dia
bersabar atas (perkara tersebut). Sebab, siapa saja yang memisahkan diri dari
jamaah (dengan tidak mentaati pemimpinya) sejengkal saja, lalu dia mati, maka
matinya adalah mati (dalam keadaan) jahiliah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jelaslah
bagaimana sikap kita sebagai umat, di mana kita harus mematuhi seorang pemimpin
meskipun kita tidak menyukainya, dengan cara memisakan diri dari pemerintah.
Ini menunjukan betapa pentingnya
eksistensi dan kekuasan suatu negara di bawah kepemimpinan seorang khalifa
(pemimpin) di dalam mengatur kedislipinan dan ketertiban masyarakat. Hanya ada
satu kondisi di mana kita boleh tidak mentaati pemimpin. Yaitu ketika pemimpin
membuat suatu kebijakan yang berupa perbuatan kemaksiatan kepada Allah dan
Rasulnya. Rasulullah bersabda:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ
وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ
بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Setiap orang muslim itu wajib
untuk mendengar dan mentaati dalam perkara-perkara yang dia senangi atau pun
yang dia benci. tetapi jika dia diperintahkan untuk mengerjakan perbuatan
maksiat, maka tidak boleh mendengar dan mentaati (amir tersebut).” (HR. Muslim)
Akan tetapi dalam islam sendiri
tidak membiarkan kaum muslim untuk melepaskan diri dari ketaatn pada pemimpin
yang memerintahkan pada kemaksiatan dan memerintahkan bukan berdasarkan sistem
hukum islam, tetapi islam mengajarkan kepada kaum muslim untuk meluruskan pemimpin yang menyimpang atau merubahnya.
Namun jika itu tidak bisa, maka kita harus mengantinya. Ini sangat penting,
sebab jika ketidak taatan ini dibiarkan begitu saja mengikuti hawa nafsu dan
akal manusia, maka masyarakat akan kacau, Stabilitas negara akan hancur, dan pelaksanaan sistem hukum akan lenyap, sebab
terjadi pemberontakan dimana-mana.
Dengan demikian
ketaatan dalam islam mmiliki gambaran yang unik dan khas. Berbeda dengan
konsep-konsep masyarakat kapitalis maupun rasional-komunis.
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Tolong Menolong dalam Islam Oleh: Siti Afiah Tolong menolong dalam bahasa A rab nya adalah ta’awun. Sedangkan menurut istilah, p...
-
Gus Bahak, Ulama Yang Enggan Dikenal Sewaktu menyantri di daerah Sarang, saya jadi tidak asing lagi mendengar nama Gus Bahak, orang...
-
Kekuatan Prasangka Oleh : M. Akrom Adabi Apa Itu Prasangka ? Prasangka merupakan sebuah dugaan yang terbesit dalam benak seorang ...


Recent Comment