Select Menu
Select Menu

Favourite

Artikel

Opini

Tokoh

Cerpen

Humor

Tips

Seni Budaya

Gallery

INGATLAH!
PARA HOKAGE
By : Abdi Rahmatullah

" Seorang pemuda duduk beristirahat di bawah pohon, tidak lama kemudian ia tertidur pulas, di dalam tidurnya ia bermimipi mendengar sebuah suara yang berkata kepadanya," Wahai saudarakuku, apa yang engkau lakukan disini? ", lalu pemuda itu menyahut," Siapakah engkau gerangan yang berbicara kepadaku?", Suara itu pun menyahut, "akulah pohon tua yang engkau ambil manfaatnya,".
Tidak lama kemudian terjadilah sebuah dialog antara pemuda dan pohon,
Pemuda: "Maafkanlah aku wahai saudaraku"!, aku telah lancang berteduh di bawahmu.
Pohon: "Tidak wahai saudarakuku, dengan maksud inilah aku diciptakan di  bumi….
Pemuda:”Akan tetapi, "bolehkah aku bertanya kepadamu"?..
Pohon: "Apa yang ingin engkau tanyakan''!, silahkan?
Pemuda: "Kenapa akhir-akhir ini engkau bersedih", tidak seperti hari-hari kemarin yang nampak ceria, "Apa engkau bersedih karena engkau sudah tua.
Pohon: "Aku tidak bersedih karena itu", karena setiap sesuatu yang ada di dunia ini, yang berawal pasti akan berakhir,.
Pemuda: "Lalu apa yang ada di pikiranmu", bolehkah saya tau!
Pohon: "Saya hanya berpikir", keadaan saudara-saudara saya yang ada di sebuah tempat yang disebut dengan perkotaan, lalu bagaimana juga dengan saudara-saudara saya yang di sekitarnya di huni oleh sekolompok manusia sepertimu.
Pemuda: " Aku mengetahui apa yang engkau maksud", engkau memikirkan keadaan saudara-saudaramu yang musnah karena sebuah bangunan-bangunan besar, dan engkau juga memikirkan, apa manusia sepertiku yang hidup pada saat ini juga melestarikan saudara-saudaramu, begitukah yang engkau pikirkan!
Pohon: Benar kawan , "saat ini manusia sepertimu hanya mengambil apa yang ia mau dan ia tidak bertanggung jawab, seperti apa yang telah ia ambil".
Pemuda: '' Maaf kawan", bukannya engkau di ciptakan di dunia ini untuk diambil manfaatnya?
Pohon: Memang benar, akan tetapi manusia sepertimu lupa, mereka hanya mengambil manfaat sementara, dan melupakan manfaat yang sesungguhnya.
Pemuda
: Seperti inikah yang engkau maksud kawan, kami hanya memikirkan apa yang nikmat bagi kami, padahal suatu saat itu akan menghancurkan kami. sebagai contoh kecil, kami membuat sebuah perkotaan, sebuah pabrik dengan menghancurkan apa yang kami mau, dan lupa melestarikan apa yang kami hancurkan…
Pohon:" Benar kawan", seperti inilah rata-rata manusia sekarang
Pemuda: "Lalu kenapa engkau hanya berdiam diri dan tidak mau berdo'a kepada Tuhan''.
Pohon: ''Berdo'a''!, setiap hari kami berdo'a, tidak hanya kami akan tetapi seluruh makhluk yang ada di dunia ini selalu mendo'akan manusia sepertimu.
Pemuda: "Untuk apa kalian semua mendo'akan manusia sepertiku ?..
Pohon: "Untuk apa!", kami hanya untuk mendo'akan hokage kami, hokage yang telah di beri tanggung jawab mengelola bumi ini, ataukah manusia sepertimu sudah lupa akan tanggung jawab ini…
Pemuda: ''Kami mengetahui akan hal itu, tetapi kami sering melupakannya.
Pohon: (Dengan meratapi kesedihannya dan dengan nada yang keras), ''lalu apa yang kaliantunggu, mulai sekarang ingatlah bahwa kalian adalah Hokage di bumi ini.
            Ini bukan tentang apa-apa, hanya sekedar mengingatkan, kadangkala kita lupa kalau sebenarnya manusialah sebagai hokage di bumi yang seharusnya menjaga dan memelihara, tapi apa yang terjadi, manusia malah merusak, tak bertanggung jawab seaka-akan tidak ada apa-apa.

            Kisah ini baru berasal dari pohon, lalu bagaimana kata laut, awan, bumi, dan seluruh kehidupan dari semua makhluk, apa mereka akan senang tentang kelakuan manusia atau bahkan akan sedih karena banyak manusia yang lupa kalau iaadalah SANG HOKAGE DI BUMI INI.
Karomah Sang Kiyai
Oleh : Badrün Tajallá
 Apa Yang Akan Terjadi Bila Seorang Santri menceritakan Suatu Karomah  Seorang Kyai?
Sebagai seorang Santri, apabila melihat langsung atau mendengar cerita atau suatu kabar mengenai Karomah dari seorang Kyai, hendaknya ia merahasiakan dan tidak menceritakan perihal Karomah Kyai tersebut. Kenapa? Karena biasanya seorang Kyai akan dipuja, disanjung, dan diagungkan-agungkan apabila Karomahnya sudah diketahui banyak orang.
Kalau sudah begitu, dengan sifat menghambanya pada Sang Maha Kuasa, seorang Kyai akan merasa malu dunia akhirat. Beliau merasa tidak pantas apabila disanjung dan diagung-agungkan oleh khalayak umum. Karena beliau sadar dan tahu bahwasannya yang patut dipuja, disanjung, dan diagungkan hanyalah Allah Azza Wajalla semata. Pada dasarnya, Seorang Kyai hanyalah hamba (Abdun) Allah seperti hamba-hamba lainnya yang banyak salah dan lupa.
Kalau seorang Kyai sudah merasa malu dunia akhirat karena Karomahnya telah diketahui oleh banyak orang, beliapun biasanya langsung berdo’a kepada Allah, meminta agar segera dipulangkan menghadap kepada-Nya. Yang artinya, beliau meminta agar segera dicabut nyawanya secepatnya.
Coba kita tengok saja, semisal Mbah Mangli Kudus, Mbah Sahal Pati, Mbah Hamid Pasuruan, dan para Waliyu Allah lainnya. Beliau-beliau wafat satu, dua tahun setelah salah satu Karomahnya telah diketahui dan dibicarakan banyak orang.
Pertanyaannya, sudah siapkah kita, apabila Kyai kita wafat pulang ke Rahmatullah dan meninggalkan kita? Sudah tentu kita akan  menjawab “Belum siap”, bukan???
Ya Allah, Ya Tuhan Kami, Tuhan Pengabul segala do’a… Panjangkanlah umur kami, umur kedua orang tua kami, umur Masyayikh kami, serta umur semua orang Mukmin di dunia ini. Amiiiinnn…
Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat.!